Gemar Lewat Masuk Saf adalah Perkara yang Mengkhuatirkan

Berkata Al ‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- :

“Bahawasanya seseorang setiap kali terlambat dari saf yang pertama atau yang kedua atau yang ketiga, maka Allah telah memasukkan dalam hatinya senang untuk berlambat-lambat pada seluruh amalan soleh, wal ‘iyyadzu billah (kita berlindung kepada Allah darinya). Oleh kerananya, Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda :

لا يزال قوم يتأخرون حتى يؤخرهم الله

“Senantiasa suatu kaum senang untuk mengakhir-akhirkan (amal soleh) hingga Allah mengakhirkan mereka.” [1]

[1] Hadits riwayat Muslim nombor 438 dalam as-Solat bab taswiyyatu ash-Shufuf wa iqamatuha, dan Abu Dawud nomor 680 dalam as-Solat bab Shaffu an-Nisaai wa Karaahiyatu at-Taakhkhuri ‘Anishshafil Awwal , dan An-Nasa’i 2/83 fil Imaamah bab Al Intimaamu biman Ya’tammu bil Imam.

Sumber: Syarhu Riyaadhush Shalihin, juz 5 hal. 111
Alih Bahasa : Ayyub Wijaya Abu ‘Alifah -hafizhahullah-

Continue reading “Gemar Lewat Masuk Saf adalah Perkara yang Mengkhuatirkan”

Gemar Lewat Masuk Saf adalah Perkara yang Mengkhuatirkan

Dua Kesempatan Berdiri di hadapan Allah

 Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :

“Bagi seorang hamba memiliki dua kesempatan berdiri di hadapan Allah, berdiri di hadapanNya ketika solat dan berdiri di hadapanNya ketika berjumpa denganNya (di hari Kiamat). Maka barangsiapa menunaikan haknya apa yang ada pada berdiri yang pertama (yaitu solat) maka akan mudah baginya pada kesempatan berdiri yang kedua (di akhirat), dan barangsiapa yang meremehkan kesempatan berdiri yang pertama dan tidak menunaikan haknya maka akan berat baginya pada berdiri yang kedua (di akhirat).”

Al Fawàid oleh Ibnul Qayyim 273

Dua Kesempatan Berdiri di hadapan Allah

Siapakah Kumpulan Haddadiyyah?

Siapakah (sekte) Haddadiyyah itu? Dan kepada siapa mereka dinisbatkan?

Haddadiyyah: Mereka adalah sebuah jamaah yang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Mahmud Al-Haddad.

Al-‘Allamah An-Najmi rahimahullah menjelaskan manhaj jemaah ini dengan mengatakan :

“Perlu diketahui, bahwasanya (sekte) haddadiyyah yang tampak dari perkataan mereka adalah pengkafiran hanya dengan sebab satu bid’ah.

Kerana mereka mengatakan, “Barangsiapa dari kalangan ulama yang ada padanya satu bid’ah (sahaja) maka wajib bagi kita untuk tidak mendoakan rahmat atasnya, dan tidak membaca kitab-kitabnya. Bahkan sungguh barangsiapa yang ada padanya satu bid’ah sahaja maka kitab-kitabnya wajib dibakar.”

Dan sungguh mereka telah membakar kitab Fathul Bari berdasarkan pengakuan mereka. Dan hal itu berdasarkan khabar dari orang yang tsiqah (terpercaya), (yang mana) mereka telah mengaku di hadapan orang tersebut.”

📚 Al-Fatawa Al-Jaliyyah jilid 2 : 168

Continue reading “Siapakah Kumpulan Haddadiyyah?”

Siapakah Kumpulan Haddadiyyah?

Jadilah Orang-orang yang Cerdas

Asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah,

“Pihak yang berbuat makar terhadapmu tidak akan menjelaskan kepadamu maksud dan tujuannya, tidak pula hakikatnya. Namun dia akan menampakkan kepadamu pakaian Islam.

Sebagaimana telah berpakaian dengannya Abdullah bin Saba’, al-Mukhtar bin Abi Ubaid, Abu Muslim al-Khurasani, ‘Ubaidullah asy-Syii’i, Ali bin Fadhl, Mushthafa Attaturk, dan orang-orang semisal mereka.

🏻Ketika mereka ingin menghancurkan Islam, mereka berpakaian dengan baju Islam. Membunuh Islam dengan pedang Islam. Jadilah kalian orang-orang cerdas, janganlah jadi orang-orang bodoh!

Para musuh justeru membimbing kalian untuk menghancurkan dan merosakkan Islam dengan tangan-tangan kalian sendiri, dan menghancurkan aqidah kalian dengan tangan-tangan kalian sendiri.”

Marhaban Ya Thalib al-‘Ilmi, hal. 381

Continue reading “Jadilah Orang-orang yang Cerdas”

Jadilah Orang-orang yang Cerdas

Kebenaran Lebih Berhak untuk Diikuti

Berkata Al-‘Allāmah Al-Wālid Shälih Al-Fawzān hafizhåhulläh:

“Maka tidak boleh fanatik kepada madzhab, tidak boleh fanatik kepada seseorang individu, dan tidak boleh fanatik kepada kabilah (suku). Namun sejatinya seorang muslim hanyalah mengikuti Al-Haq (kebenaran) yang bersama sesiapapun, dan tidak boleh fanatik, tidak boleh meninggalkan Al-Haq, yang bersama dengan lawannya. Seorang muslim wajib berjalan bersama Al-Haq dimanapun dia berada: sama saja apakah berada di dalam madzhabnya, atau bersama imamnya, atau bersama kabilahnya, atau sekalipun bersama musuhnya. Dan rujuk (kembali) kepada Al-Haq lebih baik dari pada berlarutan dalam kebatilan.”

I’ānah Al-Mustafīd (2/115).

Continue reading “Kebenaran Lebih Berhak untuk Diikuti”

Kebenaran Lebih Berhak untuk Diikuti

Wasiat Ayah Kepada Anaknya

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu memberi wasiat kepada anaknya Al-Husein bin Ali Radiyallahu’anhuma :

“Bertakwa kepada Allah dan menetapi perintah-perintah Nya, makmurkan hatimu dengan zikir kepada Allah, berpegang teguhlah dengan tali agama Allah, kerana itulah ikatan yang paling kuat antara engkau dan Allah, hidupkan hatimu dengan petuah, dan bunuhlah cita-citamu (terhadap dunia) dengan Zuhud, kuatkan hatimu dengan iman, dan lembutkannya dengan selalu ingat terhadap kematian.”

[Kanzul ‘Ummah min Sunanil Aqwal wal Af’al,
‘Alaud din Ali bin Hisamud din Rahimahullah]

Tim Fawaid
radiorasyid
https://bit.ly/radiorasyid

Wasiat Ayah Kepada Anaknya