RINGKASAN FATAWA AL-LAJNAH AD-DA’IMAH TERKAIT WABAH CORONA

🍃🌼 RINGKASAN FATAWA AL-LAJNAH AD-DA’IMAH TERKAIT WABAH CORONA

Fatwa no : 28068 Tanggal : 17/9/1441

1⃣ HUKUM SHALAT MEMAKAI MASKER DAN SARUNG TANGAN

Pertanyaan :
Apa hukum shalat dengan mengenakan masker dan sarung tangan di tempat yg dikhawatirkan ada penularan virus corona?

Jawaban :
Tidak mengapa hal itu.

2⃣ APA HUKUM TAYAMUM BAGI TENAGA MEDIS ?

Pertanyaan :
Apakah boleh bagi orang yg sedang berinteraksi dengan pasien corona, yg terasa susah baginya melepaskan pakaian pelindung (APD) untuk bertayamum untuk shalat?

Jawaban :
Apabila tidak memungkinkan melepaskan pakaian pelindung atau bisa menimbulkan mudharat tatkala melepasnya, maka hendaknya dia shalat sesuai kondisinya.

3⃣ MERASA KURANG DALAM MELAYANI PADA SEBAGIAN TENAGA MEDIS

Pertanyaan :
Disaat datang pasien corona dalam kondisi darurat, para tenaga medis memakai pakaian pelindung agar tidak tertular, yg menyebabkan terlambat penanganannya beberapa menit, sebagian tenaga medis merasa bersalah dan merasa ada kekurangan. Apakah yg demikian itu berdosa ?

Jawaban :
Tidak mengapa hal itu.

4⃣ HUKUM SALING BERJAUHAN DALAM SHALAT BERJAMAAH KARENA KAWATIR TERTULAR

Pertanyaan :
Kami bekerja di rumah sakit, dan kami shalat berjamaah di satu shaf, dalam keadaan terputus diantara orang satu dengan lainnya, sejarak satu meter. Dan imam ada di depan kami. Apakah shalatnya sah?

Jawaban : Tidak mengapa hal itu.

5⃣ MENGAKHIRKAN SHALAT DARI WAKTUNYA DEMI MENYELAMATKAN PASIEN

Pertanyaan :
Para tenaga medis yg sedang mengalami kondisi darurat dan tidak mampu shalat pada waktunya. Dan dia sibuk menyelamatkan pasien dari kebinasaan, sampai habis waktu shalat ?

Jawaban :
Hendaknya dia shalat kapan memungkinkan untuk itu, sekalipun sudah habis waktunya.

6⃣ BERSABAR DAN MENGHARAP PAHALA DALAM MENGOBATI PASIEN CORONA

Pertanyaan :
Para dokter dan tenaga medis terancam tertular di saat mengobati pasien. Mohon diberikan nasehat dan bimbingan buat mereka?

Jawaban :
Hendaknya mereka bersabar dan mengharap pahala dari sisi Allah dalam melaksanakan pekerjaan ini, di sini memberikan manfaat kepada saudara mereka yg sedang sakit.

7⃣ BAGAIMANA TATACARA SHALAT BAGI ORANG YG KESULITAN BERSUCI KARENA SAKIT CORONA

Pertanyaan :
Sebagian pasien virus corona tidak mampu berwudhu dan mampu bertayamum. Akan tetapi debu tayamum dikawatirkan akan bisa mempengaruhi alat bantu pernafasannya (respirator) dan ia akan bisa mati dengan sebab itu. Bagaimana hukum dari segi tatacara bersucinya?

Jawaban : Jika tayamum akan menimbulkan mudharat, maka hendaknya dia shalat sesuai keadaannya (sekalipun tanpa tayamum-pent) .

8⃣ PASIEN CORONA YG TIBA WAKTU SHALAT, TIDAK MAMPU BERWUDHU

Pertanyaan :
Seorang pasien corona dalam keadaan belum bersuci, dan dia berada di ruangan yg tidak ada air, dalam keadaan telah masuk waktu shalat. Dan akan terjadi bahaya jika dia meninggalkan tempatnya. Bagaimana cara dia bersuci dan shalatnya?

Jawaban : Hendaknya dia shalat sesuai keadaannya. Jika mampu bersuci dengan air maka ia harus berwudhu, jika tidak mampu, maka hendaknya bertayamum, jika tidak memungkinkan berwudhu atau tayamum maka dia shalat sesuai kondisinya.

9⃣ HUKUM TIDAK MENGUNJUNGI ORANG TUA KARENA KAWATIR TERTULAR

Pertanyaan :
Apakah para petugas medis yg merawat pasien corona, tatkala tidak mengunjungi orang tuanya karena kawatir menularkan penyakit ke mereka tergolong perbuatan durhaka?

Jawaban : Apa yg disebutkan tidak termasuk durhaka.

📚 Komite Tetap untuk Fatwa

Ketua :
Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu Syaikh

Anggota :
1. Shalih bin Abdillah Al-Fauzan
2. Muhammad bin Hasan Alu Syaikh
3. Abdussalaam bin Abdillah As-Sulaimaani

Sumber :
https://mobile.twitter.com/aliftasa

⏩|| Grup Whatsap Ma’had Ar-Ridhwan Poso

💽||_Join chanel telegram
http://telegram.me/ahlussunnahposo

🌏||_Kunjungi :
http://www.mahad-arridhwan.com

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

RINGKASAN FATAWA AL-LAJNAH AD-DA’IMAH TERKAIT WABAH CORONA

MENSYUKURI KERINGANAN ALLAH DALAM BERIBADAH DI RUMAH (RENUNGAN IBADAH SAAT PANDEMI CORONA)

💐📝MENSYUKURI KERINGANAN ALLAH DALAM BERIBADAH DI RUMAH (RENUNGAN IBADAH SAAT PANDEMI CORONA)

Setiap muslim seharusnya memahami bahwa Nabi dan para Sahabat adalah teladan utama dalam semangat ibadah. Namun, dalam kondisi tertentu, mereka mengambil rukhshah (keringanan) untuk menghindar dari kemudaratan yang lebih besar dan kasih sayang mereka untuk kaum muslimin.

Bagaimana semangat para Sahabat Nabi untuk mendatangi shalat 5 waktu berjamaah di masjid, terekam dalam ungkapan Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

Dan sungguh aku melihat keadaan kami (para Sahabat Nabi) tidaklah tertinggal darinya (shalat berjamaah di masjid) kecuali seorang munafik yang telah diketahui kemunafikannya. Sungguh, ada seorang laki-laki yang sampai dipapah oleh dua orang laki-laki (lain) hingga diberdirikan di shaf (H.R Muslim)

Jadi, jangankan shalat Jumat, shalat 5 waktu berjamaah di masjid saja para Sahabat Nabi begitu bersemangat. Namun, ketika turun hujan lebat, lafadz adzan ada sedikit perubahan. Terdapat anjuran untuk tidak usah mendatangi masjid shalat Jumat, namun diperintahkan untuk shalat di rumah saja (shalat Zhuhur).

Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu anhu pernah menerapkan hal itu sebagai sunnah dari Nabi shollallahu alaihi wasallam. Pada saat hari Jumat, beliau perintahkan kepada muadzin untuk mengganti lafadz hayya alash sholaah menjadi sholluu fii buyuutikum, yang artinya: sholatlah di rumah-rumah kalian.
Bagi banyak orang yang belum mengenal sunnah Nabi tersebut, tentu keheranan dan menganggap sebagai sesuatu yang aneh. Kemudian Ibnu Abbas menyampaikan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا قَالَ فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالدَّحَضِ

Ibnu Abbas berkata kepada muadzdzinnya di hari (Jumat) yang hujan: Jika engkau selesai mengucapkan ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ROSULULLAH, janganlah mengucapkan: HAYYA ‘ALAS SHOLAAH. Ucapkanlah: SHOLLUU FII BUYUUTIKUM (Sholatlah di rumah-rumah kalian). Maka seakan-akan orang-orang menganggap itu hal yang sangat aneh. Ibnu Abbas pun berkata: Hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku (maksud Ibnu Abbas adalah Rasulullah, pent). Sesungguhnya (shalat) Jumat (secara asal) adalah kewajiban. Namun aku tidak suka membuat kalian kesulitan berjalan di tanah liat dan (permukaan) yang licin (H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai riwayat al-Bukhari).

Subhanallah, demikianlah orang yang ‘alim, lautan ilmu. Tidak sekedar ngerti, tapi paham benar dengan pemahaman yang mendalam dan luas. Tidak sekedar berilmu, beliau memiliki perasaan kasih sayang kepada kaum muslimin. Benar-benar Ulama Robbaniy.

Ibnu Abbas paham benar bahwa shalat Jumat itu suatu kewajiban bagi laki-laki muslim yang mukim dan tidak sakit. Namun, hujan lebat yang bisa berpotensi menyulitkan, sudah merupakan keringanan untuk tidak menghadirinya.

Padahal, sebenarnya sekedar hujan tidaklah otomatis membuat orang sakit. Tapi berpotensi menyebabkan orang sakit. Sakitnya pun bisa jadi tidak langsung saat terkena hujan, tapi baru beberapa waktu kemudian.

Sedangkan Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallahu anhu juga pernah mengumandangkan adzan dengan lafadz: Shollu fi rihaalikum (shalatlah di tempat-tempat tinggal kalian). Beliau menilai ada 3 keadaan yang membuat seseorang tidak harus menghadiri panggilan adzan ke masjid, yaitu: cuaca sangat dingin, hujan, dan angin kencang.

Mari kita simak hadits berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ نَادَى بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ فِي آخِرِ نِدَائِهِ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ أَلَا صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْ ذَاتُ مَطَرٍ أَوْ ذَاتُ رِيحٍ فِي السَّفَرِ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar mengumandangkan adzan untuk shalat pada malam yang sangat dingin disertai angin kencang. Kemudian di akhir adzannya, Ibnu Umar mengucapkan: ALAA SHOLLU FII RIHAALIKUM… ALAA SHOLLU FII RIHAALIKUM… ALAA SHOLLU FII RIHAALIKUM…(Sholatlah di tempat tinggal…sholatlah di tempat tinggal..sholatlah di tempat tinggal)…Karena sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memerintahkan muadzin jika malam yang sangat dingin, atau hujan, atau angin kencang, di saat safar, untuk mengumandangkan: ALAA SHOLLUU FIR RIHAAL (sholatlah di tempat tinggal) (H.R Ahmad dan Ibnu Awaanah, dinilai sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Asy-Syaukaaniy rahimahullah menyatakan:

وفيه أن كلا من الثلاثة عذر في التأخر عن الجماعة ونقل ابن بطال فيه الإجماع

Dan dalam hadits ini (terdapat pelajaran) bahwasanya seluruh dari ketiga hal itu (sangat dingin, hujan, dan angin kencang) adalah udzur untuk tidak menghadiri shalat berjamaah. Dan Ibnu Baththol menukilkan ijmak (kesepakatan ulama) akan hal itu (Nailul Authar (3/190)).

Perhatikan hal ini…Keluar rumah untuk menghadiri panggilan adzan di masjid saat cuaca sangat dingin, tidaklah otomatis membuat orang sakit. Ada orang yang sudah biasa dengan dingin, tidak terpengaruh. Ada pula yang sangat terpengaruh. Jadi, ia berpotensi menyebabkan seseorang sakit. Biidznillah. Namun panggilan adzan dengan tambahan lafadz itu menganjurkan agar semua yang mendengar adzan untuk shalat di rumah.

Kita kembali lagi tentang hujan sebagai udzur untuk tidak menghadiri panggilan adzan ke masjid. Kita perlu melihat perbuatan Sahabat lain sebagai saksi sejarah bagaimana penerapannya di masa Nabi. Ternyata, sekedar hujan rintik saja, sudah membuat lafadz adzan yang sebelumnya panggilan agar datang ke masjid berubah menjadi anjuran untuk shalat di rumah. Mari perhatikan pemahaman Sahabat Nabi Usamah bin Umair radhiyallahu anhu berikut ini:

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ قَالَ خَرَجْتُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ فَلَمَّا رَجَعْتُ اسْتَفْتَحْتُ فَقَالَ أَبِي مَنْ هَذَا قَالَ أَبُو الْمَلِيحِ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَصَابَتْنَا سَمَاءٌ لَمْ تَبُلَّ أَسَافِلَ نِعَالِنَا فَنَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

Dari Abul Malih beliau berkata: Aku pernah keluar (menuju masjid) pada malam yang hujan. Ketika aku kembali ke rumah, aku meminta dibukakan pintu. Kemudian ayahku (Usamah bin Umair) bertanya (dari balik pintu): Siapa? Aku menjawab: ‘Abul Malih’. Kemudian ayahku berkata: Sungguh aku pernah bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada hari Hudaibiyah kemudian kami ditimpa hujan yang tidak sampai membasahi bagian bawah sandal-sandal kami, kemudian berserulah muadzin Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam: SHOLLUU FII RIHAALIKUM (‘Sholatlah di tempat tinggal kalian’) (H.R Ibnu Majah, Ahmad)

Saat hujan masih belum sampai membasahi bagian bawah sandal, artinya belum deras, sudah ada pengubahan lafadz adzan. Justru dianjurkan shalat di tempat masing-masing. Padahal itu masih hujan rintik. Belum deras. Ada 2 kemungkinan. Setelah itu menjadi deras, atau justru berhenti hujannya. Tapi kumandang adzan sudah bisa diubah.

Memang di sini ada pembahasan Ulama tentang hal itu. Sebagian Ulama memandang beda antara adzan shalat 5 waktu dengan adzan untuk shalat Jumat. Kalau shalat 5 waktu, cukup hujan rintik saja sudah ada keringanan untuk tidak hadir di masjid. Tapi kalau shalat Jumat, harus berupa hujan lebat. Tentang masalah ini kita tidak membahasnya lebih jauh.

Karena itu sebagian Ulama menilai bahwa kekhawatiran akan terjadinya kemudaratan pada diri, harta, maupun keluarga, adalah udzur untuk tidak menghadiri shalat berjamaah atau bahkan shalat Jumat di masjid.

Ibnu Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah (wafat 620 Hijriyah) menyatakan:

وَيُعْذَرُ فِي تَرْكِهِمَا الْخَائِفُ ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { الْعُذْرُ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ } وَالْخَوْفُ ، ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ ؛ خَوْفٌ عَلَى النَّفْسِ ، وَخَوْفٌ عَلَى الْمَالِ ، وَخَوْفٌ عَلَى الْأَهْلِ

Dan termasuk udzur dalam meninggalkan keduanya (shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid) adalah orang yang takut (khawatir). Berdasarkan sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam (yang artinya): udzur itu adalah perasaan takut dan sakit. Perasaan takut (kekhawatiran itu) ada 3 macam, yaitu takut terhadap diri sendiri (jiwa), takut terhadap harta, dan takut terhadap keluarga (al-Mughniy (3/110))

Alaauddin Abul Hasan Ali bin Sulaiman al-Mirdaawiy (wafat tahun 885 Hijriyah) rahimahullah menyatakan:

وَيُعْذَرُ أَيْضًا فِي تَرْكِهِمَا لِخَوْفِ حُدُوْثِ الْمَرَضِ

Dan termasuk udzur juga untuk meninggalkan keduanya (shalat Jumat dan shalat berjamaah) adalah karena kekhawatiran terjadinya penyakit (al-Inshaaf fii Ma’rifatir Raajih minal Khilaaf ‘alaa Madzhabil Imaam Ahmad bin Hanbal (2/210))

Ibnun Najjaar rahimahullah (wafat 972 Hijriyah) menyatakan:

يُعْذَرْ بِتَرْكِ جُمْعَةٍ وَجَمَاعَةٍ مَرِيْضٌ وخَائِفٌ حُدُوثَ مَرَضٍ لَيْسَا بِالْمَسْجِدِ

Memiliki udzur untuk meninggalkan (shalat) Jumat dan jamaah adalah orang yang sakit dan orang yang takut terjadinya sakit yang keduanya tidak berada di masjid (Muntahaa al-Iroodaat (1/319)).

Kekhawatiran sakit, karena dugaan kuat atau bahkan keyakinan, membuat adanya keringanan dalam pelaksanaan ibadah. Sebagai contoh, saat cuaca sangat dingin, seorang yang junub boleh untuk tidak mandi janabah diganti dengan tayammum. Kalau ia khawatir bisa sakit. Sebagian Ulama memberi catatan, selama ia tidak memungkinkan mandi dengan air hangat.

Mari kita simak pernyataan dari al-Imam al-Bukhari berikut ini, beliau menyatakan dalam kitab yang masyhur dikenal sebagai Shahih al-Bukhari:

بَاب إِذَا خَافَ الْجُنُبُ عَلَى نَفْسِهِ الْمَرَضَ أَوْ الْمَوْتَ أَوْ خَافَ الْعَطَشَ تَيَمَّمَ وَيُذْكَرُ أَنَّ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ أَجْنَبَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فَتَيَمَّمَ وَتَلَا { وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا }

Bab: Jika seorang yang junub mengkhawatirkan pada dirinya sakit atau mati atau takut kehausan, ia boleh bertayammum. Dan disebutkan bahwasanya Amr bin al-Ash pernah mengalami junub di malam yang sangat dingin, kemudian beliau bertayammum. Beliau pun membaca ayat:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian (Q.S anNisaa’ ayat 29)(Shahih al-Bukhari, Kitab ke-7: Tayammum, Bab ke-6)

Secara lebih lengkap, haditsnya ada dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim dan lainnya. Bahwa Sahabat ‘Amr bin al-‘Ash ditunjuk sebagai pimpinan pasukan dalam perang Dzatus Salaasil. Pada malam harinya beliau mimpi basah, sehingga mengalami junub. Namun, cuaca sangat dingin sekali. Beliau khawatir, jika mandi junub, bisa menyebabkan beliau mati. Maka beliaupun bertayammum. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau berwudhu’ saja, tidak mandi janabah. ‘Amr bin al-‘Ash ini menjadi imam shalat Subuh dalam kondisi demikian. Hal itu diketahui oleh Sahabat yang lain dan disampaikan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Ketika Nabi menanyakan alasannya kepada ‘Amr bin al-Ash, beliau berdalil dengan firman Allah surah anNisaa’ ayat 29 itu, bahwa Allah melarang membunuh diri kalian karena Allah Maha Penyayang terhadap kalian. Nabi pun tersenyum dan diam sebagai pembenaran terhadap sikap itu.

Perhatikan kefakihan Sahabat Nabi tersebut….

Kalau kita perhatikan keadaan kita di masa pandemi Corona seperti saat tulisan ini dibuat, banyak Ulama dan pemerintah muslim yang menganjurkan kaum muslimin untuk beribadah shalat di rumah saja. Hal ini adalah sikap yang benar.
Karena, sifat virus Corona (SARS-CoV-2) bisa menjangkiti seseorang tanpa disadari. Seseorang bisa menjadi pembawa virus itu tanpa terpantau gejalanya. Orang yang sebenarnya membawa virus Corona tersebut tapi tidak menunjukkan gejala, disebut dengan OTG (Orang Tanpa Gejala).

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pada 14 Mei 2020 di Gedung FMIPA Unpad mengungkapkan bahwa 70% pasien yang terkonfirmasi COVID-19 di Jawa Barat saat itu adalah OTG (Orang Tanpa Gejala).

Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengingatkan potensi penyebaran virus Covid-19 melalui orang tanpa gejala (OTG) mencapai 75 persen. Hal itu beliau sampaikan dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta pada 10 Mei 2020.

Bahaya Covid-19 ini sudah demikian nyata. Hingga 19 Mei 2020 tercatat yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 18.496 orang. Jumlah yang sudah meninggal dunia dengan sebab itu adalah 1.221 orang. Sedangkan di dunia, tercatat 4,81 juta jiwa terkena Covid-19 dan telah meninggal sebanyak 319 ribu jiwa.

Kalau seseorang memilih untuk tidak shalat di masjid sementara waktu selama bahaya pandemi Corona ini masih mengancam, itu adalah langkah yang bijak. Sikapnya akan bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, maupun kaum muslimin yang lain.

Untuk hujan, cuaca sangat dingin, maupun angin kencang saja, bisa menjadi rukhshah (keringanan) untuk tidak mendatangi masjid. Padahal itu bukanlah sesuatu yang otomatis langsung membuat orang sakit. Hanya berpotensi membuat orang menjadi sakit. Apalagi dengan virus Corona yang berpotensi tidak hanya membuat satu orang menjadi sakit, tapi ia bisa membawa dan menularkannya –dengan izin Allah- kepada orang-orang yang juga tidak hadir di masjid saat itu. Bisa membahayakan anak kecil, orang lanjut usia, ataupun orang dengan penyakit bawaan lainnya, dengan dampak risiko yang lebih besar.

Saudaraku, tidaklah selalu perbuatan yang lebih besar perjuangannya, lebih membuat capek, membawa pahala yang lebih besar. Dalam kondisi tertentu, mengambil keringanan, itulah yang diharapkan.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ

Sesungguhnya Allah suka keringanannya diambil, sebagaimana ia suka kewajiban-kewajiban terhadap-Nya ditunaikan (H.R al-Bazzar dan atThobaroniy dari Ibnu Abbas, dishahihkan Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albaniy)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

Sesungguhnya Allah suka diambil keringanan-keringanan dari-Nya sebagaimana Dia benci dilakukan kemaksiatan-kemaksiatan terhadap-Nya (H.R Ahmad dari Ibnu Umar, dinyatakan sanadnya shahih oleh oleh al-Mundziri dan Syaikh Ahmad Syakir)

Bahkan Nabi shollallahu alaihi wasallam mencela seseorang yang memaksakan diri untuk beribadah dalam kondisi menyulitkan dirinya bahkan kemudian merepotkan orang lain, padahal ada keringanan pada dia untuk tidak melaksanakan ibadah tersebut.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhai mereka- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam saat safar melihat kerumunan orang dan ada satu laki-laki yang dinaungi (agar tidak terkena terik panas langsung). Nabi bertanya: Mengapa ini? Para Sahabat berkata: Ia berpuasa. Nabi bersabda: Bukanlah termasuk kebaikan, berpuasa saat safar (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Artinya, ia tetap memaksa berpuasa saat safar, dalam kondisi menyulitkan dia. Kemudian justru ia pingsan dan merepotkan orang lain. Nabi menyatakan bahwa tidak ada kebaikan untuk yang memaksa berpuasa dalam kondisi demikian. Karena semestinya ia mengambil keringanan tidak berpuasa saat safar.

Ada seseorang yang bernadzar untuk berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Ternyata, untuk memenuhi nadzarnya itu ia sampai harus dipapah oleh dua orang. Ia menyusahkan dirinya sendiri dan merepotkan orang lain. Nabi pun mencela perbuatan tersebut dan menyatakan bahwa Allah tidak butuh dengan sikap dia menyiksa dirinya sendiri tersebut, serta menyuruh orang itu untuk naik kendaraan.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى شَيْخًا يُهَادَى بَيْنَ ابْنَيْهِ قَالَ مَا بَالُ هَذَا قَالُوا نَذَرَ أَنْ يَمْشِيَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ لَغَنِيٌّ وَأَمَرَهُ أَنْ يَرْكَبَ

Dari Anas –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam melihat seorang tua dipapah oleh kedua anak lelakinya. Nabi bertanya: Mengapa orang ini? Mereka berkata: Ia bernadzar untuk berjalan. Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah sangat tidak butuh dengan sikap dia menyiksa dirinya sendiri. Nabi pun memerintahkan kepadanya untuk naik kendaraan (H.R al-Bukhari)

Seseorang yang memaksakan diri ke masjid padahal ada keringanan untuk tidak melaksanakan hal itu, dikhawatirkan justru ia tercela. Jika ternyata menyebabkan kesulitan untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Terakhir, berhati-hatilah untuk mengimbau atau menganjurkan agar tetap melaksanakan ibadah tertentu, padahal ada keringanan terhadapnya. Apalagi jika bisa menyebabkan kematian bagi seseorang.

Apabila kita memerintahkan sesuatu hal yang asalnya wajib, namun sebenarnya dalam kondisi itu ada keringanan, hati-hati untuk mewajibkannya. Apalagi jika nantinya berimplikasi tanpa kita sadari menjadi sebab kematian orang lain.
Ada seorang Sahabat Nabi yang saat dalam suatu safar perang di jalan Allah mengalami luka di kepalanya. Kemudian Sahabat yang luka kepalanya ini mengalami ihtilam (mimpi basah), sehingga ia mengalami junub. Ia pun bertanya kepada orang lain:

هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً

Apakah kalian mendapati adanya keringanan padaku untuk tidak mandi wajib?

Orang yang ditanya saat itu menjawab: Tidak ada keringanan bagimu. Akhirnya Sahabat itu tetap mandi wajib, dan menyebabkan ia meninggal dunia.
Ketika sampai berita itu kepada Nabi, Nabi pun marah dan menyatakan:

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّه

Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka (H.R Abu Dawud dari Jabir bin Abdillah)

Nabi menganggap mereka yang memfatwakan masih harus mandi wajib seperti biasa dalam kondisi seperti itu adalah sebagai pembunuh orang tersebut. Karena dengan sebab fatwa dan anjuran dia kemudian orang itu meninggal dunia.
Maka berhati-hatilah untuk menyatakan keharusan sesuatu, padahal dalam kondisi tertentu sesuatu itu ada keringanan untuk tidak dilaksanakan. Apalagi tanpa kita sadari kemudian hal itu menjadi sebab meninggalnya muslim lain.

Nyawa seorang muslim sangat berharga di sisi Allah.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, pertolongan, ‘afiyat, dan ampunan-Nya kepada segenap kaum muslimin.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡
WA al I’tishom

MENSYUKURI KERINGANAN ALLAH DALAM BERIBADAH DI RUMAH (RENUNGAN IBADAH SAAT PANDEMI CORONA)

Zakat Fitri

💐📝ZAKAT FITHRI

✅Apakah yang Dimaksud dengan Zakat Fithri?

Zakat fithri adalah zakat dalam bentuk bahan makanan pokok yang dikeluarkan di akhir Ramadhan, diwajibkan kepada seluruh kaum muslimin yang mampu untuk diserahkan kepada fakir miskin.

Banyak saudara kita menyebut dengan zakat fitrah. Namun, sebutan dalam lafadz-lafadz hadits adalah zakatul fithri atau shodaqotul fithri. Al-Fithr artinya adalah berbuka. Zakat fithri adalah zakat yang dikeluarkan pada saat awal masuk Syawwal/ di akhir Ramadhan karena terkait dengan bolehnya kaum muslimin kembali berbuka (setelah sebulan penuh berpuasa).

✅Apa Tujuan dari Zakat Fithri?

Pembayaran zakat fithri dimaksudkan sebagai pembersih bagi puasa seorang muslim dari perbuatan-perbuatan sia-sia dan rofats (ucapan/perbuatan kotor), sekaligus sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan rofats dan pemberian makanan untuk orang-orang miskin (H.R Abu Dawud)

Tujuan pemberian makanan pada fakir miskin di akhir Ramadhan tersebut adalah agar mereka tidak meminta-minta dan ikut dalam kegembiraan pada saat Iedul Fithri.

✅Siapa yang Diwajibkan Mengeluarkan Zakat Fithri?

Zakat fithri wajib dikeluarkan oleh semua kaum muslimin yang mampu: baik kecil maupun dewasa, laki-laki maupun wanita.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاةِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sho’ kurma, atau satu sho’ gandum, bagi budak, orang yang merdeka, laki, perempuan, anak kecil, dewasa dari kaum muslimin dan Rasul memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya manusia menuju sholat (Ied)(H.R alBukhari dan Muslim)

Seseorang yang mengeluarkan zakat fithr adalah seorang yang mampu. Kriteria mampu adalah memiliki kelebihan makanan bagi dia dan keluarga yang menjadi tanggungannya dalam sehari semalam menjelang Iedul Fithri.

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ… فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ …أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبْعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ

Barangsiapa yang meminta-minta sedangkan ia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka (pada hakikatnya) ia sedang memperbanyak api neraka….Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang mencukupinya (kadar kecukupan)…Rasul bersabda: Ia memiliki sesuatu yang mengenyangkannya sehari semalam atau semalam dan sehari (H.R Abu Dawud dan al-Baihaqy)

✅Kapan Waktu Dikeluarkannya Zakat Fithri?

Batas akhir pengeluaran zakat fithr adalah sebelum sholat Ied. Sedangkan batas awal adalah 2 hari sebelum Iedul Fithri (malam 28 Ramadhan).

وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dan mereka (para Sahabat Nabi) memberikan (zakat fithr) sebelum Iedul Fithri sehari atau dua hari (sebelumnya)(H.R alBukhari no 1415 dari Ibnu Umar)

مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Barangsiapa yang menunaikannya sebelum sholat (Ied), maka itu adalah zakat yang diterima. Barangsiapa yang menunaikannya setelah sholat (Ied), maka itu (terhitung) shodaqoh (saja)(H.R Abu Dawud dari Ibnu Abbas).

Secara asal, awal mula diwajibkan pembayaran zakat fithr adalah pada saat Maghrib berakhirnya bulan Ramadhan atau awal bulan Syawwal. Bagi yang meninggal sebelum itu, tidak wajib zakat fithri baginya (Fiqhul Ibaadaat karya Syaikh Ibnu Utsaimin hal 211).

Pembayaran zakat fithri sehari atau dua hari sebelum hari raya adalah sebagai bentuk kehati-hatian yang diperbolehkan (dicontohkan para Sahabat Nabi).

✅Apakah yang Dikeluarkan dari Zakat Fithri?

Yang dikeluarkan adalah bahan makanan pokok.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ…

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu beliau berkata: Kami memberikan (zakat fithr) di masa Nabi shollallahu alaihi wsallam: 1 sho’ makanan…(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Kalau di Indonesia, bisa berupa beras. Takarannya adalah 1 sho’ yang jika dikonversikan ke dalam kg adalah sekitar 2,25 hingga 3 kg. Sebenarnya, takaran sho’ adalah 4 kali cidukan penuh 2 telapak tangan laki-laki dewasa yang ukuran tangannya sedang. Sebagai kehati-hatian bisa menggunakan ukuran 3 kg, sebagaimana penjelasan Syaikh Bin Baz.

✅Bolehkah Zakat Fithr Diberikan Kepada Selain Fakir Miskin?

Pendapat yang benar dari para Ulama’ adalah zakat fithr hanya diberikan kepada fakir dan miskin saja. Berbeda dengan zakat maal yang bisa diberikan kepada 8 golongan, tidak khusus untuk fakir miskin. Zakat fithr khusus untuk fakir miskin saja, sebagaimana atsar dari Ibnu Abbas:

وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

dan (zakat fithr) adalah pemberian makanan untuk orang-orang miskin (H.R Abu Dawud).

(dikutip dari buku “Ramadhan Bertabur Berkah”, Abu Utsman Kharisman, penerbit Pena Hikmah Yogya)

💡💡📝📝💡💡
WA al I’tishom

Zakat Fitri

Memanfaatkan Qunut Witir untuk Berdoa

💐📝Memanfaatkan Qunut Witir untuk Berdoa

Qunut witir hukumnya sunnah, dilakukan di rakaat terakhir shalat witir. Bisa dilakukan orang yang shalat witir sendirian atau berjamaah.

Sebagian Ulama berpendapat bisa dilakukan di waktu malam kapan saja (di dalam atau di luar Ramadhan). Pendapat ini adalah pendapat Sahabat Ibnu Mas’ud dan dikuatkan oleh al-Lajnah ad-Daaimah.

Sebagian Ulama melakukan qunut witir hanya di bulan Ramadhan, dimulai sejak pertengahan Ramadhan. Di antaranya diriwayatkan sebagai perbuatan Sahabat Nabi Umar bin al-Khoththob, Ali bin Abi Tholib, Ubay bin Ka’ab, dan Ibnu Umar. Pendapat ini dikuatkan oleh al-Imam asy-Syafi’i. Al-Imam Ahmad mempersilakan seseorang qunut witir di malam kapan saja (di Ramadhan atau di luar Ramadhan), namun beliau sendiri lebih menyukai qunut witir setelah lewat pertengahan Ramadhan. Sebagian penjelasan tersebut tertuang dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi syarh Sunan atTirmidzi.

Qunut witir bisa dilakukan sebelum atau setelah ruku’. Jika dilakukan sebelum ruku’, dibaca setelah selesai membaca surah dalam alQuran. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Tholib membaca qunut witir setelah ruku’.

Ada lafadz doa qunut witir yang diajarkan Nabi shollallahu alaihi wasalam kepada cucu beliau, al-Hasan:

عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ… اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma (beliau berkata): Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengajarkan kepadaku beberapa kalimat (doa) yang aku baca dalam witir: ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAYT. WA ‘AAFINII FIMAN ‘AAFAYT. WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAYT. WA BAARIK LII FII MAA A’THOYT. WA QINII SYARRO MAA QODHOYT. INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHOO ‘ALAYK. WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAYT. WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAYT. TABAAROKTA ROBBANAA WA TA’AALAYT (Ya Allah, berilah aku hidayah sebagaimana orang yang Engkau beri hidayah. Berikan aku afiyat (kesehatan dan keselamatan) sebagaimana orang yang telah Engkau beri afiyat. Tolonglah aku sebagaimana orang yang telah Engkau beri pertolongan. Berilah keberkahan dalam pemberianMu kepadaku. Berilah aku perlindungan dari keburukan yang Engkau takdirkan. Sesungguhnya Engkaulah Hakim (penentu), sedangkan Engkau tidak ditentukan oleh seorangpun. Sesungguhnya tidaklah menjadi hina orang-orang yang Engkau tolong dan tidaklah mulya orang-orang yang memusuhiMu. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau) (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad)

Boleh berdoa dengan doa lain. anNawawiy rahimahullah menyatakan:

واعلم أن القنوت لا يتعين فيه دعاء على المذهب المختار ، فأي دعاء دعا به حصل القنوت ولو قنت بآية ، أو آيات من القرآن العزيز وهي مشتملة على الدعاء حصل القنوت ، ولكن الأفضل ما جاءت به السنة

Ketahuilah, sesungguhnya qunut tidaklah (harus) dengan doa tertentu menurut pendapat yang terpilih. Doa apa saja yang dipanjatkan, tercapailah qunut. Meskipun qunut dengan satu atau beberapa ayat alQuran al-Aziz yang mengandung doa, tercapailah qunut. Namun yang paling utama adalah yang berdasarkan sunnah (al-Adzkar karya anNawawiy (1/61))

Di masa pandemi Corona ini, kita bisa menambahkan doa dalam qunut witir, misalkan dengan lafadz:

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْوَبَاءَ

ALLAAHUMMADFA’ ‘ANNAAL WABAA’ (Ya Allah hilangkanlah wabah dari kami)

Boleh juga dengan doa-doa lain. Jika Imam membaca qunut dalam witir, makmum pun mengaminkannya. Sehingga bacaan qunut Imam adalah dengan lafadz jamak, bukan untuk dirinya sendiri. Sehingga kalau menggunakan doa dalam hadits al-Hasan cucu Nabi di atas adalah dengan kalimat ALLAHUMMAHDINAA FIIMAN HADAYT. WA ‘AAFINAA FIIMAN ‘AAFAYT….dan seterusnya…

Sebaiknya Imam jangan memperpanjang doa dalam qunut agar tidak menyusahkan makmum.

Wallaahu A’lam

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡
WA al I’tishom

Memanfaatkan Qunut Witir untuk Berdoa

BERAPA KG BERAS UNTUK ZAKAT FITRI?

🌾🍚
BERAPA KG BERAS UNTUK ZAKAT FITHRI?

Ukuran Shadaqah (Zakat) Fithri

1⃣ Tanya :
“Berapakah nilai sebenarnya untuk 1 sha’ yang disebutkan dalam hadits terkait dengan Zakat Fithri?”
Jawab :

“Shadaqah (Zakat) Fithri Wajib dibayarkan dalam bentuk makanan, tidak boleh dibayarkan dalam bentuk nilai (uang, pen).
ADAPUN UKURAN 1 SHA’ KURANG LEBIH = 3 KG .”
[ Al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal al-Ifta’
Fatwa no. 17299
Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin Baz]

2⃣ Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz :

“Zakat Fithri dengan sha’ kita sekarang adalah kurang lebih 3 Kg.”
[Fatawa Nur ‘Ala ad-Darb 15/279]

3⃣ Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
hafizhahullah :

“Ukuran 1 sha’ dalam kilo adalah = kurang lebih 3 Kg”
[http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2505]

4⃣ Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad al-Luhaidan hafizhahullah:

Tanya : Berapa ukuran 1 sha’?
Jawab : 1 sha’ ukurannya adalah 3 Kg
[Arsip Kumpulan Tanya Jawab asy-Syaikh Badr al-‘Anazi dengan asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih al-Luhaidan]

5⃣ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah :

“Ukuran Zakat Fithri adalah 1 sha’ makanan, Sha’ Nabawi. Yang aku ukur, = 2 kg 40 gr. (2040 gr). Yakni sekitar 2,250 Kg Beras.”
[Fatawa Nur ‘ala ad-Darb (2/10)]
______________
Ket :
Pemerintah RI melalui Depag RI tahun lalu menghimbau untuk mengeluarkan Zakat Fithri sebesar 2,7 Kg.

Tahun ini (1436 H) ada juga himbauan dari MUI Jatim, untuk mengeluarkan Zakat Fithri 3 Kg.

Sementara dalam Peraturan Menag RI No. 52 tahun 2014 , dijelaskan bahwa Zakat Fithri 2,5 Kg.

Kita telah tahu bagaimana pendapat-pendapat yang ada di kalangan ‘Ulama Kibar Ahlus Sunnah masa ini.

📌 Jika Anda mengeluarkan 3 Kg, maka itu :
1. Lebih BERHATI-HATI insya Allah.
2. Sesuai dengan fatwa banyak ulama Ahlus Sunnah masa ini.
3. Sesuai dengan himbauan MUI Jatim.

Wallahu alam.

Sumber :

BERAPA KG BERAS UNTUK ZAKAT FITHRI?

https://t.me/KEUTAMAANSUNNAH

BERAPA KG BERAS UNTUK ZAKAT FITRI?

BEKALI DIRI ANDA DENGAN SHALAT, PUASA DAN SEDEKAH

📦🛍️ BEKALI DIRI ANDA DENGAN SHALAT, PUASA DAN SEDEKAH

💺 Abu Dzar رضي الله عنه pernah berkata :

‏”صلوا في ظلمة الليل لوحشة القبور؛
‏وصوموا الدنيا لحر يوم النشور؛
‏وتصدقوا مخافة يوم عسير .”

“Shalatlah kalian di malam yang gulita untuk menghadapi kengerian kubur.

Berpuasalah kalian di dunia untuk kebebasan pada hari kebangkitan.

Dan bersedekahlah kalian karena takut akan hari yang sulit (hari kiamat).”

📖 Az-Zuhd li Ahmad bin Hanbal 122.

#bekalidiri #shalat #puasa #sedekah

🖥 Kunjungi website kami
http://www.salafytemanggung.com
•••┈••••○❁🌻❁○••••┈•••

✍🏻WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶ🌏ⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya….ayo segera bergabung
🌐📲 Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://t.me/KajianIslamTemanggung

Turut mempublikasikan:
✍http://t.me/KEUTAMAANSUNNAH
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

BEKALI DIRI ANDA DENGAN SHALAT, PUASA DAN SEDEKAH

STOP BERBUAT RAFATS SAAT BERPUASA

🚦✋🌸
STOP BERBUAT RAFATS SAAT BERPUASA

💺Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan hafizhahullah berkata :

“Orang yang berpuasa dilarang dari rafats yaitu jima’ (hubungan seksual) dan pendorong-pendorongnya. Ia menjauhi perkara yang menyebabkan dirinya bersyahwat dan membangkitkan syahwat istrinya. Sehingga ia,

# tidak memandang istrinya dengan pandangan syahwat atau

#menyentuhnya atau

#menciumnya dengan ciuman syahwat.

Karena ini semua akan menjatuhkan dirinya pada hal yang haram yaitu jima’.
Maka, wajib baginya menjauhi hal-hal ini.

Memang, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium istri-istrinya dalam kondisi puasa, dikarenakan beliau seorang yang kuat menahan nafsunya, tidak timbul syahwatnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga boleh saja, orang yang kuat menahan nafsunya dan tidak timbul syahwatnya, mencium istrinya dengan ciuman mesra, bukan ciuman syahwat, akan tetapi itu adalah ciuman kasih sayang dan tidak timbul syahwatnya.

Adapun pemuda yang timbul syahwatnya, maka hendaknya ia menjauhi sebab-sebab yang merusak puasanya.

📚Akhtha’ Fish Shiyam

🖥http://t.me/ukhwh

🇸🇦Teks arab

قال الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله تعالى:

الصائم منهي عن الرفث وهو الجماع ودواعيه، يتجنب ما يسبب له الشهوة ويثير الشهوة مع زوجته فلا ينظر إليها نظر شهوة ولا يلمسها أو يقبلها تقبيل شهوة لأن هذا يوقعه في المحرم وهو الجماع فعليه أن يتجنب هذه الأمور. نعم كان النبي صلى الله عليه وسلم يقبل زوجاته وهو صائم لأنه كان مالكًا لإربه لا تثور شهوته صلى الله عليه وسلم، الذي يملك إربه ولا تثور شهوته لا بأس أن يقبل تقبيل عِشرة لا تقبيل شهوة إنما هو تقبيل مودة ولا تثور شهوته أما الشاب الذي تثور شهوته فإنه يتجنب الأسباب التي تفسد صيامه.

STOP BERBUAT RAFATS SAAT BERPUASA

MAKSUD AYAT “BERIBADAHLAH KEPADA ALLAH SAMPAI DATANG KEPADAMU AL-YAQIN”

✋🏻🌸🌷📑
MAKSUD AYAT “BERIBADAHLAH KEPADA ALLAH SAMPAI DATANG KEPADAMU AL-YAQIN”

💺Asy-Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan hafizhahullah

📬 Pertanyaan:

سائل يقول ما المراد بالآية (وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ)؟

Seseorang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan ayat “Beribadahlah kepada Allah sampai datang kepadamu al-yaqin”?”

🔓 Jawaban:

يعني استمر في عبادة ربك حتى يأتيك الموت فعمل المسلم لا ينتهي إلا بالموت

Yakni senantiasa terus dalam beribadah kepada Rabb-mu sampai datang kematian kepadamu. Maka amal seorang muslim tidaklah berhenti kecuali dengan (datangnya) kematian.

ولا يكن له غاية إذا وصلها فإنه ينقطع عن العبادة كما هو عند الصوفية يقولون إذا وصلت الى مرحلة المشاهدة والمعرفة بالله فلا حاجة إلى العمل

Tidak ada suatu tujuan (atau tingkatan tertentu) yang jika telah tercapai akan membuat pelakunya terputus (atau berhenti) dari beribadah (kepada Allah); seperti yang ada di dalam pemahaman sufiyah, di mana orang-orang sufi itu berkata, “Jika engkau telah mencapai marhalah (tingkatan) al-musyahadah dan al-ma’rifah tentang Allah, maka tidak perlu lagi beramal”.

وهذا ضلال والعياذ بالله، المسلم يستمر على عبادة ربه حتى يأتيه الموت.

Maka (pemahaman sufi) yang seperti ini adalah sesat dan kita memohon perlindungan kepada Allah (dari kesesatan ini). Seorang muslim akan senantiasa terus beribadah kepada Rabb-nya sampai datang kematian kepadanya.

📚 Sumber || http://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/16807

🌏 Sumber || http://forumsalafy.net/maksud-ayat-beribadahlah-kepada-allah-sampai-datang-kepadamu-al-yaqin/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎
https://t.me/BacalahAlQuran
•┈┈┈••✵🌼✵••┈┈┈•

MAKSUD AYAT “BERIBADAHLAH KEPADA ALLAH SAMPAI DATANG KEPADAMU AL-YAQIN”

TAAT KEPADA PEMIMPIN KAFIR

🔥🌱⛔✊🏻 TAAT KEPADA PEMIMPIN KAFIR

📂 Berkata seorang penanya dari India :

🔖 “Telah berkata Rasulullah -shalallahu ‘alihi wa salam- : ((Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak ada bai’at kepada pemimpinnya, maka ia meninggal dalam keadaan matinya orang jahiliyyah)).”

📪 Penanya berkata : “Aku dari India, bagaimana aku bisa beramal dalam permasalahan bai’at ini?”

🔐 Dijawab oleh asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah:

🔖 “Engkau tidak mempunyai pemimpin yang Muslim (yang bisa diba’iat). Pemerintah di negerimu berasal dari para penganut ajaran Budha (Hindu yang dimaksud Syaikh, pent), dan mereka adalah orang-orang kafir.

🌱 Maka hendaknya engkau mentaati mereka selama hal itu adalah ketaatan kepada Allah.

☝🏻 Selama engkau masih bisa menunaikan syi’ar-syi’ar Allah (di negerimu), maka tidak wajib atasmu untuk hijrah ke negeri muslim.”

📚 Sumber : http://ar.alnahj.net/fatwa/112

📝 Alih Bahasa : Syabab Forum Salafy

🌐 Kunjungi || http://forumsalafy.net/taat-kepada-pemimpin-kafir/

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹

TAAT KEPADA PEMIMPIN KAFIR

ZAKAT UNTUK KERABAT LEBIH BAIK DARIPADA TETANGGA

🌾🏡 ZAKAT UNTUK KERABAT LEBIH BAIK DARIPADA TETANGGA

Pertanyaan:
Apa yang afdal, memberi zakat untuk kerabat miskin yang nafkahnya bukan menjadi tanggung jawab saya, ataukah saya memberi tetangga yang miskin?

Jawaban Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah

الأقارب أولى، الأقارب المحتاجون أولى بذلك لأنها عليهم صدقة وصلة

Kerabat lebih utama. Kerabat yang miskin lebih diutamakan dalam hal tersebut, karena ini mengandung sedekah dan menyambung silaturahmi.

Audio:

┈┉┅━━━━━━┅┉┈

🚊 MEMINDAHKAN ZAKAT FITRAH KE NEGERI LAIN

Pertanyaan:
Apabila zakat dipindahkan ke negeri lain yang lebih membutuhkan, apakah sah baginya?

Jawaban Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah

”نعم، تجزئ إذا كان هناك بلد أكثر حاجة من البلد الذي فيه المال أو البلد الذي فيه المال ليس فيه فقراء تنقل ولا بأس بذلك إلى مستحقيها“.

Ya. Sah, apabila ada negeri yang lebih membutuhkan daripada negeri harta itu berada. Atau, di negeri harta itu berada, tidak ada orang miskin, kemudian dipindah. Tidak mengapa hal itu diberikan kepada orang yang berhak.

Audio: http://www.alfawzan.af.org.sa/sites/default/files/01_59.mp3

🏡 Majmu’ah Salafy Baturaja
🌏 Kanal Telegram: https://t.me/salafybaturaja

Sumber
@majalahtashfiyah
▫▫▫▫▫▫️

ZAKAT UNTUK KERABAT LEBIH BAIK DARIPADA TETANGGA