BIMBINGAN DALAM BERSIKAP KETIKA MENERIMA BERITA TENTANG SESEORANG MUSLIM

๐Ÿ’๐Ÿ“BIMBINGAN DALAM BERSIKAP KETIKA MENERIMA BERITA TENTANG SESEORANG MUSLIM

Al-โ€˜Allaamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan:

Wajib bagi seseorang jika mendengar (berita) tentang orang tertentu untuk memastikan kebenaran nukilan (berita) itu. Bisa jadi nukilan itu salah. Ini banyak terjadi. Banyak yang kami dengar dinisbatkan kepada masyayikh atau pemimpin atau orang lainnya, kemudian ketika kami klarifikasi dari dia, kami dapati bahwasanya itu dusta, tidak ada asalnya. Bisa jadi memiliki asal, namun ditambahi. Ini adalah ujian yang besar.

Pertama, wajib untuk memastikan kebenaran nukilan. Jika nukilan itu benar bahwasanya fulan berkata demikian baik itu berasal dari seorang pemimpin, seorang yang โ€˜alim, menteri, atau seorang laki-laki biasa, kita harus mencermati sebelum berbincang dengannya. Kita harus mencermati apakah pada ucapannya ada sisi pandang (yang dibenarkan, pent). Apakah itu adalah ijtihad yang bisa benar ataupun salah. Bisa jadi kita yang salah dan dia yang benar.

Kita harus mencermatinya (secara seksama) sebelum berbincang dengannya untuk mengingkari apa yang dinisbatkan kepada dia, dan semisalnya. Kebanyakan nukilan tentang sesuatu itu benar, dan kita mengetahui bahwasanya seorang ini berkata atau berbuat sesuatu, kemudian ketika kita cermati, kita baru mendapati bahwasanya ia memiliki hal yang bisa dibenarkan dan dibolehkan. Apabila ia memiliki hal yang bisa dibenarkan atau dibolehkan โ€“ meskipun tidak diketahui oleh kebanyakan orang โ€“ maka dia tidak layak untuk dicela atau diingkari. Karena ia berkata demikian berdasarkan ijtihadnya.

Tidak ada seorang pun dari kita yang turun kepadanya wahyu sehingga ucapannya pasti benar atau perbuatannya pasti benar. Karena wahyu telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Jika kita mencermati nukilan yang benar tentang dia, kita baru mendapati bahwa ucapan dan perbuatannya memiliki hal yang bisa dibolehkan dan dibenarkan, maka kita diam dan tidak berbicara dengannya (dalam hal itu, pent).

Jika nampak jelas bagi kita bahwa tidak ada hal yang bisa dibenarkan atau diperbolehkan dari ucapan maupun perbuatannya, maka di saat itulah kita berbicara. Namun berbicara dalam bentuk yang bagaimana? Apakah kita sebarkan kepada manusia dan berkata: bahwa fulan memiliki begini dan begini? Tidak.

Wajib untuk menyampaikan nasihat secara hikmah. Kita datang kepada dia dan berkata: Anda telah berbuat dan berkata demikian. Ini tidak benar. Karena ini menyelisihi firman Allah Azza Wa Jalla demikian dan demikian. Atau sabda Rasul shollallahu alaihi wasallam demikian dan demikian. Atau ijmaโ€™ Ulama demikian dan demikian. Bagaimana anda bisa berkata demikian atau berbuat demikian?

(Liqaaโ€™ al-Baab al-Maftuuh (38/3))

๐Ÿ‡ธ๐Ÿ‡ฆ Naskah Asli dalam Bahasa Arab:

ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฅุฐุง ุณู…ุน ุนู† ุดุฎุต ุดูŠุฆุงู‹ ุฃู† ูŠุชุฃูƒุฏ ุฃูˆู„ุงู‹ ู…ู† ุตุญุฉ ุงู„ู†ู‚ู„ุŒ ูู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ู‚ู„ ุฎุทุฃู‹ุŒ ูˆู‡ุฐุง ูŠู‚ุน ูƒุซูŠุฑุงู‹ุŒ ูˆูƒุซูŠุฑุงู‹ ู…ุง ู†ุณู…ุน ู…ู…ุง ูŠู†ุณุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุดุงูŠุฎ ุฃูˆ ุงู„ุฃู…ุฑุงุก ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ู… ู…ู† ุงู„ู†ุงุณุŒ ุซู… ุฅุฐุง ุชุญู‚ู‚ู†ุง ู…ู†ู‡ ูˆุฌุฏู†ุง ุฃู†ู‡ ูƒุฐุจ ู„ุง ุฃุตู„ ู„ู‡ุŒ ูˆุฑุจู…ุง ูŠูƒูˆู† ู„ู‡ ุฃุตู„ ู„ูƒู† ูŠุฒุงุฏ ููŠู‡ุŒ ูˆู‡ุฐู‡ ู…ุญู†ุฉ ุนุธูŠู…ุฉุŒ ููŠุฌุจ ุฃูˆู„ุงู‹ ุฃู† ู†ุชุญู‚ู‚ ู…ู† ุตุญุฉ ุงู„ู†ู‚ู„ุŒ ูุฅุฐุง ุตุญ ุงู„ู†ู‚ู„ุŒ ูˆุฃู† ูู„ุงู†ุงู‹ ู‚ุงู„ ูƒุฐุงุŒ ู…ู† ุฃู…ูŠุฑ ุฃูˆ ุนุงู„ู… ุฃูˆ ูˆุฒูŠุฑ ุฃูˆ ุฑุฌู„ ุนุงุฏูŠุŒ ูุฅู†ู†ุง ู†ุชุฃู…ู„ ู‚ุจู„ ุฃู† ู†ุชุญุฏุซ ู…ุนู‡ุŒ ู†ุชุฃู…ู„ ู‡ู„ ู„ูƒู„ุงู…ู‡ ูˆุฌู‡ุฉ ู†ุธุฑุŸ! ู‡ู„ ู‡ูˆ ุงุฌุชู‡ุงุฏ ูŠุฎุทุฆ ููŠู‡ ูˆูŠุตูŠุจุŒ ูˆู‚ุฏ ู†ูƒูˆู† ู†ุญู† ู…ุฎุทุฆูŠู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ู…ุตูŠุจ.
ู†ุชุฃู…ู„ ู‚ุจู„ ุฃู† ู†ุชุฌุงุณุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒู„ุงู… ู…ุนู‡ ุจุฅู†ูƒุงุฑ ู…ุง ู†ุณุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฃูˆ ู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒุŒ ูˆูƒุซูŠุฑุงู‹ ู…ุง ูŠู†ู‚ู„ ุงู„ุดูŠุก ูˆูŠูƒูˆู† ุงู„ู†ู‚ู„ ุตุญูŠุญุงู‹ุŒ ูˆู†ุนู„ู… ุฃู† ู‡ุฐุง ุงู„ุฑุฌู„ ู‚ุงู„ู‡ ุฃูˆ ูุนู„ู‡ุŒ ุซู… ุฅุฐุง ุชุฃู…ู„ู†ุง ูˆุฌุฏู†ุง ุฃู† ู„ู‡ ู…ุจุฑุฑุงู‹ ูˆู…ุณูˆุบุงู‹ุŒ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ู„ู‡ ู…ุจุฑุฑุงู‹ ุฃูˆ ู…ุณูˆุบุงู‹ -ูˆุฅู† ูƒุงู† ูŠุฌู‡ู„ู‡ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ- ูุฅู†ู‡ ู„ูŠุณ ุฃู‡ู„ุงู‹ ู„ู„ู…ู„ุงู…ุฉ ุฃูˆ ุฃู‡ู„ุงู‹ ู„ู„ุฅู†ูƒุงุฑุ› ู„ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„ู‡ ุนู† ุงุฌุชู‡ุงุฏุŒ ูˆู„ูŠุณ ุงู„ุดุฎุต ู…ู†ุง ูŠู†ุฒู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ูˆุญูŠ ุจุญูŠุซ ูŠูƒูˆู† ู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุญู‚ุงู‹ ุฃูˆ ู…ุง ูุนู„ู‡ ุญู‚ุงู‹ุŒ ูุฅู† ุงู„ูˆุญูŠ ุงู†ู‚ุทุน ุจูˆูุงุฉ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูุฅุฐุง ุชุฃู…ู„ู†ุง ู…ุง ุตุญ ุจู‡ ุงู„ู†ู‚ู„ ุนู†ู‡ุŒ ูˆูˆุฌุฏู†ุง ุฃู† ู„ู‚ูˆู„ู‡ ูˆู„ูุนู„ู‡ ู…ุณุงุบุงู‹ ูˆู…ุจุฑุฑุงู‹ ูุฅู†ู†ุง ู†ุณูƒุช ูˆู„ุง ู†ุชูƒู„ู… ู…ุนู‡.
ูุฅุฐุง ุชุจูŠู† ู„ู†ุง ุฃู†ู‡ ู„ุง ู…ุณุงุบ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ูˆู„ุง ู…ุจุฑุฑ ู„ู‡ุŒ ุฃูˆ ู„ุง ู…ุณุงุบ ู„ูุนู„ู‡ ูˆู„ุง ู…ุจุฑุฑ ู„ู‡ ุญูŠู†ุฆุฐู ู†ุชูƒู„ู… ูˆู„ูƒู† ูƒูŠู ุงู„ูƒู„ุงู…ุŸ ู‡ู„ ูŠูƒูˆู† ุงู„ูƒู„ุงู… ุจุฃู† ู†ุดู‡ุฑ ุจู‡ุฐุง ุงู„ุฑุฌู„ ุนู†ุฏ ุงู„ู†ุงุณุŒ ูˆู†ู‚ูˆู„: ู‡ุฐุง ูู„ุงู† ููŠู‡ ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุงุŸ ู„ุง.
ุงู„ูˆุงุฌุจ ุงู„ู†ุตูŠุญุฉ ุจุงู„ุญูƒู…ุฉ ุจุฃู† ู†ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ูˆู†ู‚ูˆู„: ูุนู„ุช ูƒุฐุง ุฃูˆ ู‚ู„ุช ูƒุฐุงุŒ ูˆู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ุจุตุญูŠุญุ› ู„ุฃู†ู‡ ูŠุฎุงู„ู ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ุŒ ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุงุŒ ุฃูˆ ู‚ูˆู„ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุงุŒ ุฃูˆ ุฅุฌู…ุงุน ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุงุŒ ููƒูŠู ุชู‚ูˆู„ ุฐู„ูƒ ุฃูˆ ุชูุนู„ ุฐู„ูƒุŸ

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก
WA al I’tishom

BIMBINGAN DALAM BERSIKAP KETIKA MENERIMA BERITA TENTANG SESEORANG MUSLIM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s