Nasihat Bagi Suami yang Menghabiskan Sebahagian Besar Waktunya untuk Internet

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly rahimahullah

Pertanyaan: Ada seorang istri mengeluhkan suaminya yang menghabiskan sebagian besarnya untuk internet dan tidak menemaninya dan anak-anaknya kecuali sebentar saja, maka apa nasehat Anda untuknya dan untuk suaminya tersebut?

Jawaban:

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ اتَّبَعَ هُدَاهُ أَمَّا بَعْدُ:

Engkau bukan satu-satunya yang mengeluhkan hal yang tidak menyenangkan ini, bahkan banyak para istri yang mengeluhkan hal yang engkau sebutkan yang dilakukan oleh suami-suami mereka. Jika memang demikian perkaranya, maka nasehat saya bagimu dan bagi mereka adalah hendaknya selalu bersabar dan berusaha mendiskusikannya dengan suami dengan cara yang lembut, terlebih lagi jika dia bergadang di depan media ini untuk menyebarkan ilmu atau mencari ilmu (membaca tulisan ulama atau asatidzah, donwnload kitab, atau ceramah dan durus mereka dan semisalnya –pent).

Adapun jika engkau mengetahui bahwa berlama-lamanya dia depan media ini untuk menonton atau mendengar sesuatu yang haram dan semisalnya, maka ingkarilah perbuatannya jika engkau benar-benar mengetahui bahwa hal tersebut haram. Mudah-mudahan suamimu mau mendengar nasehatmu dan engkau pun akan mendapatkan pahala. Terlebih lagi jika engkau memiliki anak-anak yang tentunya berat bagimu jika ditinggal olehnya dan engkau serta anak-anakmu akan terlantar atau ditimpa hal-hal yang tidak diinginkan karenanya.

Saya tekankan lagi agar engkau bersabar, karena pertolongan akan mengiringi kesabaran, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.

“Ketahuilah bahwasanya pertolongan menyertai kesabaran, jalan keluar menyertai kesusahan, dan kemudahan menyertai kesulitan.”
(Lihat: Silsilah Ash-Shahihah, no. 2382 –pent)

Adapun nasehat saya kepada suamimu dan dia merupakan pihak yang pertama kali akan dimintai tanggung jawab terhadapmu dan keluargamu, yaitu hendaknya dia mengingat sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِيْ مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Kalian semua adalah penanggung jawab dan kalian semua akan dimintai tanggung jawab terhadap urusannya, seorang kepala negara adalah penanggung jawab dan akan dimintai tanggung jawab tentang rakyatnya, seorang suami adalah penanggung jawab di keluarganya dan akan dimintai tanggung jawab terhadap urusannya, seorang istri adalah penanggung jawab di rumah suaminya dan dia akan dimintai tanggung jawab terhadap urusannya, seorang pembantu juga adalah penanggung jawab pada harta tuannya dan dia akan dimintai tanggung jawab terhadap urusannya, jadi kalian semua adalah penanggung jawab dan kalian semua akan dimintai tanggung jawab terhadap urusannya.”
(Muttafaqun alaih)

Kunjungi Selengkapnya || http://forumsalafy.net/nasehat-bagi-suami-yang-menghabiska…/

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Nasihat Bagi Suami yang Menghabiskan Sebahagian Besar Waktunya untuk Internet

Demikianlah Hendaknya Seorang Teman

Asy-Syaikh Zaid Al-Madkholiy -rohimahullohu ta’ala- berkata :

“Teman sejati itu adalah yang membantu saudaranya sesuai kemampuan, meskipun (hanya) dengan (menyampaikan) sebuah kalimat yang baik. Dan membantunya dengan (memberikan) nasihat untuk peribadinya. Dan jika lupa sesuatu, dia mengingatkannya demi menegakkan hak pertemanan. Terlebih dalam perkara yang terkait dengan urusan agama, maka dia mengingatkannya dan menasihatinya serta menghulurkan (bantuan) kebaikan untuknya. Maka semua itu termasuk memenuhi (hak) persahabatan.

Dan adapun orang yang jika engkau lupa, dia tidak mengingatkanmu. Jika engkau memerlukannya, dia tidak membantumu. Maka sungguh dia tidaklah menegakkan hak persahabatan, kerana dia tidak mengetahui kadar persahabatan dan kadar sesuatu yang mengakibatkan pemenuhan (hak) bersama dengan teman-teman.”

‘Aunul Ahadish Shomad bi Syarhil Adabil Mufrod (1/166)

Continue reading “Demikianlah Hendaknya Seorang Teman”

Demikianlah Hendaknya Seorang Teman

Kepada Mereka yang Sedikit Ilmunya

Al-Allamah Zaid Al-Madkhali rahimahullah berkata:

Nasihatku kepada mereka yang sedikit ilmunya..

“Hendaknya mereka menjaga lisan-lisan mereka dari menjatuhkan kehormatan para penuntut ilmu salafiyiin, memakan daging-daging mereka (ghibah) dengan mengkritik mencela, (Atau dengan) menuduh mereka dengan fanatik yang tercela yang dibangun diatas taqlid buta dan berkelompok.”

(Al-Ajwibah Al-Atsariyah h 108)

Sumber : Channel Telegram Syaikh Fawwaz al Madkhali

Continue reading “Kepada Mereka yang Sedikit Ilmunya”

Kepada Mereka yang Sedikit Ilmunya

Memaksa Wanita Menikah dengan Lelaki Tidak Disukai

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly rahimahullah

Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, ada pertanyaan dari Maroko: “Apa hukum menikahkan wanita dengan lelaki yang tidak dia sukai?”

Asy-Syaikh: Harus ada keredhaan dari wanita tersebut dan tidak boleh bagi walinya untuk menikahkannya dengan seorang lelaki yang tidak dia sukai. Jadi diteliti keadaan si lelaki, jika dia seorang yang soleh namun pihak wanita tidak menyukainya, maka hendaknya si wali mengajaknya bermusyawarah dan menyebutkan kebaikan-kebaikan lelaki tersebut kepadanya dengan harapan agar dia menerimanya. Namun jika dia tetap menolak, maka tidak boleh bagi si wali untuk memaksanya. Kerana kehidupan rumah tangga dibangun atas dasar keredhaan di antara suami istri. Sedangkan saling redha termasuk salah satu syarat sahnya pernikahan.

Selengkapnya baca di
forumsalafy.net » Bolehkah Memaksa Wanita Menikah Dengan Pria Yang Tidak Dia Sukai – http://forumsalafy.net/?p=2860

Memaksa Wanita Menikah dengan Lelaki Tidak Disukai

Tercelanya Debat

Berkata Al-‘Allāmah Zaid Al-Madkhåli råhimahulläh,

“Dan debat, serta perdebatan tidaklah memiliki tujuan yang sahih (benar), dan bukan termasuk dari akhlak ahlus sunnah, dan tidak ada kebaikan dibalik itu namun ia hanyalah merupakan bahagian dari hawa nafsu yang selalu memerintahkan kepada kejelekan dan bertujuan untuk mengalahkan orang lain; bukan untuk menampakkan kebenaran dan mendiamkan kebatilan, namun ia hanyalah mengikuti hawa nafsu.”

At-Ta’liqät Al-Lathîfah, halaman: 24.

Continue reading “Tercelanya Debat”

Tercelanya Debat