TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI

TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI
-=-=-=-=-=-=-=
Ditulis oleh : al Ustadz Kharisman hafizhahullah
=-==-=-=-
Apakah Hukum Tasmiyah (Mengucapkan Bismillah) pada saat Berwudhu’?
=-=-=-==
Jawab :
Sunnah muakkadah. Tidak sampai pada taraf wajib, karena dalam surat alMaidah ayat 6 Allah tidak menyebutkan kewajiban tasmiyah. Demikian juga, ketika Nabi ditanya oleh seorang Arab Badui tentang wudhu’, beliau mengajarkannya dan tidak menyebutkan tasmiyah di awal.

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الطُّهُورُ فَدَعَا بِمَاءٍ فِي إِنَاءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ

Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata Wahai Rasulullah, bagaimana cara bersuci (wudhu’)? Kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meminta bejana berisi air wudhu’ kemudian mencuci kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian mencuci wajahnya 3 kali, kemudian mencuci kedua tangan hingga siku 3 kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian memasukkan dua jari telunjuk pada kedua telinga dan mengusap bagian luar atas telinga dengan ibu jarinya dan bagian dalam telinga dengan jari telunjuknya, kemudian mencuci kedua kaki tiga kali tiga kali. Selanjutnya beliau bersabda: Demikianlah wudhu’, barangsiapa yang menambahnya maka ia telah salah dan dzhalim (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin)
-=-=-=-=
Hadits-hadits tentang mengucap bismillah dalam wudhu’ meski masing-masing jalur ada unsur kelemahan, namun bisa saling menguatkan satu sama lain karena banyaknya jalur periwayatan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Mundziri (atTarghiib wat Tarhiib (1/100)

Seseorang yang berwudhu’ namun di Dalam Kamar Mandi, Apakah Tetap Mengucapkan Tasmiyah (Bismillah)?
=-=-=-=-=
Jawab : Hendaknya mengucapkan bismillah dalam hati tidak diucapkan dengan lisan (Fatwa Syaikh al-Utsaimin)

Apakah Rukun-rukun Wudhu’ ?
=-=-=-=-
Jawab : Rukun – rukun wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang jika ditinggalkan dengan sengaja atau lupa, maka wudhu’nya batal. Rukun dalam wudhu’ bisa juga disebut kewajiban dalam wudhu’. Rukun wudhu’ ada 6 :

1. Mencuci wajah, termasuk berkumur (al-madhmadhah) dan memasukkan air ke dalam hidung (al-istinsyaq) serta mengeluarkannya.

…فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…

“…cucilah wajah kalian…(Q.S al-Maidah: 6)

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

“Jika kalian berwudhu’, maka berkumurlah (H.R Abu Dawud)

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air ke dalam dua rongga hidung, kemudian keluarkanlah (H.R Muslim)
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
2. Mencuci kedua tangan termasuk siku.

…وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ…

“…dan (cucilah) kedua tangan kalian termasuk siku…”(Q.S al-Maidah:6)
3. Mengusap kepala dan telinga.

…وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ…

…”dan usaplah kepala kalian…(Q.S al-Maidah:6)

الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

“Kedua telinga adalah termasuk kepala” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Ibnu Daqiiqil ‘Ied)
-=–=-=-=-=-=-=-=
4. Mencuci kedua telapak kaki termasuk mata kaki.

…وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ…

…”dan cucilah kedua kaki kalian termasuk mata kaki…(Q.S al-Maidah:6)
=-=-=-=-=-=-=
5. Berurutan, sebagaimana urutan penyebutan dalam al-Qur’an.

إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Sesungguhnya tidaklah sempurna sholat salah seorang dari kalian sampai ia menyempurnakan wudhu’nya sebagaimana Allah perintahkan ia cuci wajah dan kedua tangannya sampai siku dan mengusap kedua kaki dan (mencuci) kedua kaki sampai siku (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah)
=-=-=-=-=-=-=-==-
6. Al-Muwaalah, yaitu tidak ada jeda yang lama antara satu rukun ke rukun berikutnya.

عَنْ خَالِدٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّ وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ

Dari Khalid dari sebagian Sahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seseorang sholat sedangkan pada punggung telapak kakinya terdapat (sedikit) kilauan putih seukuran dirham yang TIDAK TERKENA AIR. Maka kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk mengulangi wudhu’ dan sholat (H.R Ahmad dan Abu Dawud)
-=-=-=-=-=-=-=-
Apakah Sunnah-Sunnah dalam Wudhu’ ?
=-=-=-=-=
Jawab : Sunnah-sunnah dalam wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang akan semakin menyempurnakan wudhu’, menyebabkan pahala bertambah, namun tidak sampai taraf wajib. Kalaupun ditinggalkan, tidak menyebabkan wudhu’nya batal. Sunnah –sunnah wudhu’ adalah :
1. Mengucapkan Bismillah di permulaan wudhu’
=-=-=-=-==
2. Bersiwak (sikat gigi) sebelum atau setelah wudhu’

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan dengan wudhu’ (H.R Malik, Ahmad, anNasaai).
=-=-=-=-=-=-=
3. Mencuci kedua telapak tangan 3 kali di permulaan wudhu’
4. Bersungguh-sungguh ketika memasukkan air ke dalam hidung, kecuali pada saat berpuasa

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“dan bersungguh-sungguhlah ketika menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau berpuasa”(H.R Abu Dawud, dishahihkan alHakim dan disepakati adz-Dzahaby)
=-=-=-=-=-=-=
5. Menyela-nyela jari ketika mencuci tangan dan kaki serta menyela-nyela jenggot

… وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ…

“dan sela-selailah antara jari jemari…(H.R Abu Dawud)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ

Dari Utsman bin Affan –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyela-nyela jenggotnya (ketika berwudhu’)(H.R atTirmidzi)
=-=-=-=-=-=
6. Mencuci anggota tubuh yang harus dicuci (wajah, tangan, dan kaki) 3 kali.
Pada dasarnya, semua rukun-rukun wudhu’ wajib dilaksanakan minimal sekali. Jika dilakukan 3 kali seperti pada hadits-hadits yang telah disebutkan, akan semakin menyempurnakan wudhu’, bertambah pahalanya.
=-=-=-=-=
7. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ اَلتَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ, وَتَرَجُّلِهِ, وَطُهُورِهُ, وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha- beliau berkata : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci, dan pada setiap urusan (yang baik)(Muttafaqun ‘alaih)
8. Hemat dalam penggunaan air

عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dengan 1 mud dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud (Muttafaqun ‘alaih)
=-=-=-=-=-=-=-=
Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,5 sampai 0,75 liter. Sedangkan 1 sha’ adalah 4 mud.
=-=-=-=-=
9. Berdoa setelahnya.

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
-=-=-=-=-=-=
Bagaimanakah cara berkumur dan istinsyaq yang benar?
Jawab : Cara yang benar adalah berkumur dan istinsyaq dilakukan bersamaan pada tiap cidukan air. Air diciduk dengan telapak tangan kanan, kemudian air dihirup ke mulut disertai berkumur) dan dihirup ke hidung bersamaan, kemudian dikeluarkan juga bersamaan. Sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Sedangkan, cara berwudhu’ yang memisahkan antara berkumur dan menghirup air secara tersendiri HADITS-HADITSNYA LEMAH (DHAIF ), demikian kata al-Imam an-Nawawy rahimahullah (syarh Shahih Muslim (3/106)).

ثُمَّ أَدْخَلَ – صلى الله عليه وسلم – يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا

Kemudian beliau shollallaahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangannya ke dalam bejana (dan mengeluarkannya), kemudian berkumur dan memasukkan air ke hidung dari 1 cidukan tangan. Beliau melakukannya 3 kali (Muttafaqun alaih)
=-=-=-=-=-=-=
Sumber : http://salafy.or.id/blog/2012/09/27/tanya-jawab-seputar-wudhu-1/
Yahdikumullah

Advertisements
TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI

Sasaran Zakat Fitrah

Al-Ustadz Qomar Su’aidy Lc hafizhahullah menulis,

“Yang kami maksud di sini adalah mashraf atau sasaran penyaluran zakat.

Ada perbezaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebahagian ulama mengatakan sasaran penyalurannya adalah orang fakir miskin secara khusus. Sebahagian lagi mengatakan, sasaran penyalurannya adalah sebagaimana zakat yang lain, yaitu lapan golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 4/314).

Continue reading “Sasaran Zakat Fitrah”

Sasaran Zakat Fitrah

Perekat Cinta

Faidah dari Al-Ustadz Abu Nasiim Mukhtar iben Rifai hafizhahullah

Suaranya lirih membawakan rona kesedihan bercampur kecemasan. Dalam lirihnya (Sirah Umar bin Abdul Aziz hal. 164), Umar bin Abdul Aziz bertutur dalam kata-kata qur’ani, “Sungguh! Aku amat takut terhadap adzab nan pedih, pabila aku durhaka kepada Rabb-ku”.

Di hadapan Umar bin Abdul Aziz, seorang wanita solehah figur kaum isteri khusyuk mendengarkan. Setiap huruf yang diucapkan suaminya tidak ada yang ia lewatkan. Menusuk, mengarah dan tepat mengena di pusat hati. Fathimah isteri Umar bin Abdul Aziz menangis. Tapi bukan hanya menangis. Ia menangis dan berucap sebagai tanda cinta, “Allahumma. Ya Allah, lindungilah suamiku dari neraka”.

Sang suami mengingat pedihnya adzab neraka, isterinya memohonkan kepada Allah agar melindungi suaminya dari neraka.

Suami, pernahkah -dengan penuh kasih-, mengingatkan isteri tentang neraka?

Wahai isteri, bilakah engkau mendoakan suamimu agar terlindungi dari neraka?

Subhaanallah!..

WhatsApp Salafy Indonesia || http://forumsalafy.net/?p=12095

—–
Edisi:
مجموعة الأخوة السلفية
Majmu’ah Al-Ukhuwah As-Salafiyyah

Perekat Cinta

Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

Ditulis oleh:

Al-Ustadz Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawy -hafidzahullah-

Masalah: Apakah hukum mengumandangkan azan di telinga bayi yang baru lahir?

Kebanyakan para ulama memandang hal ini sunnah, iaitu mengumandangkan azan di telinga kanan, sedangkan iqamah di telinga kiri. Mereka berdalil dengan beberapa hadis;

Hadis Abi Raafi’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَذَّنَ فِي أُذُنَيِ الْحَسَنِ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ “

“Aku melihat Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan pada kedua telinga Hasan bin ‘Ali ketika Fatimah melahirkannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi, akan tetapi didalam sanadnya terdapat kelemahan, iaitu hadis ini diriwayatkan melalui jalan ‘Aashim bin ‘Ubaidillah, dia seorang perawi yang dha’if (lemah).

Hadis Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahawa Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ، فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى، وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى، لَمْ يَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ»

“Barangsiapa dilahirkan seorang anak, kemudian dia kumandangkan azan di telinga kanannya (bayi) dan iqamah di telinga kirinya, maka jin tidak akan dapat mengganggunya.”

Hadis ini adalah hadis palsu, dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Marwan bin Saalim al-Ghifaari dan Yahya Ibnul ‘Alaa, mereka berdua yang memalsukan hadis ini.

Mereka juga berdalil dengan hadis-hadis yang lainnya, namun semuanya tidak sah datangnya dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam.

Sehingga boleh disimpulkan bahwa pendapat yang benar dalam permasalahan ini adalah tidak disyariatkan mengumandangkan azan di telinga kanan bayi yang baru lahir dan juga iqamah di telinga kiri bayi.

Wallahu a’lam.

WA Forum Berbagi Faidah [FBF] Dinukil dari KIS |

Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir