AKAN TERGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

💦💧🌕🌺
AKAN TERGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

💺Asy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata :

“Apabila engkau ditimpa musibah, maka janganlah engkau mengira bahwa kesedihan yang menghampirimu, atau rasa sakit yang menimpamu, meski hanya sebuah tusukan duri, janganlah engkau mengira bahwa itu akan berlalu tanpa arti.

Bahkan itu akan tergantikan dengan yang lebih baik darinya dan akan menggugurkan dosa-dosamu, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.

Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

📚 Syarh Riyadhush Shalihin 1/94
┉┉✽̶»̶̥»̶̥✽̶┉┉

قال الشيخ إبن عثيمين رحمه الله :

ﻓﺈﻥ ﺃُﺻﺒﺖ ﺑﺎﻟﻤﺼﻴﺒﺔ ﻓﻼ ﺗﻈﻦ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻬﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺄﺗﻴﻚ ﺃﻭ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﻟﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺄﺗﻴﻚ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺷﻮﻛﺔ ﻻ ﺗﻈﻦ ﺃﻧﻪ ﺳﻴﺬﻫﺐ ﺳُﺪﻯ

ﺑﻞ ﺳﺘُﻌﻮّﺽ ﺧﻴﺮًﺍ ﻣﻨﻪ، ﺳﺘُﺤﻂّ ﻋﻨﻚ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻛﻤﺎ ﺗﺤﻂُّ ﺍﻟﺸﺠﺮﺓ ﻭﺭﻗﻬﺎ

ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ .

📚 شرح رياض الصالحين ١ /٩٤

📝💻 Majmu’ah Hikmah Salafiyyah ||  https://t.me/hikmahsalafiyyah

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Advertisements
AKAN TERGANTIKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK

Meninggalkan Qadha Puasa

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz –pernah memegang jawatan sebagai ketua Lajnah Ad Da’imah (komiti fatwa Saudi Arabia)- ditanyakan,

“Apa hukum seseorang yang meninggalkan qadha’ puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya dan dia tidak memiliki uzur untuk menunaikan qadha’ tersebut. Apakah cukup baginya bertaubat dan menunaikan qadha’ atau dia memiliki kewajiban kafarah?”

Syaikh Ibnu Baz menjawab:

“Dia wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dia wajib memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan disertai dengan qadha’ puasanya. Ukuran makanan untuk orang miskin adalah setengah sha’ Nabawi dari makanan pokok negeri tersebut (kurma, gandum, beras atau semacamnya) dan ukurannya adalah sekitar 1.5 kg sebagai ukuran pendekatan. Dan tidak ada kafarah (tebusan) selain itu. Hal inilah yang difatwakan oleh beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Namun apabila dia menunda qadha’nya kerana ada udzur seperti sakit atau bersafar, atau pada wanita kerana hamil atau menyusui dan sulit untuk berpuasa, maka tidak ada kewajiban bagi mereka selain mengqadha’ puasanya.”

[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, no. 15 hal. 347.]

Meninggalkan Qadha Puasa