HAKEKAT KEKAYAAN HATI

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

‏حقيقة غنى القلب تعلُّقه بالله وحده.

“Hakekat kekayaan hati adalah bergantungnya hanya kepada Allah saja.”

Madarijus Salikin, jilid 2 hlm. 420

Sumber || https://twitter.com/fzmhm12121/status/858995298378670084

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

HAKEKAT KEKAYAAN HATI

Orang Yang Berbahagia

Berkata Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah:-

“Ketahuilah bahwa zaman tidaklah akan tetap pada satu keadaan; sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla’:

( وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ) [سورة آل عمران140]

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” [QS. Ali Imran: 140]

Maka terkadang (menjadi) miskin dan terkadang kaya, terkadang jaya dan terkadang hina, terkadang membuat para penolong senang dan terkadang membuat musuh gembira.

Maka orang yang bahagia adalah orang yang tetap pada satu prinsip dalam keadaan bagaimanapun, yaitu (dalam keadaan) takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.

Kerana sejatinya dia jika kaya maka akan memperindah (keadaan)nya,  dan jika dia dalam keadaan miskin maka akan dibukakan baginya pintu kesabaran, dan jika dimudahkan (urusannya) maka menjadi sempurna kenikmatan baginya, dan jika dia diuji maka dia akan memikulnya, dan tidaklah bermudharat baginya jika zaman membuatnya terjatuh ataupun naik, atau membuatnya papa (miskin), membuatnya kenyang atau pun lapar, kerana itu semua pastilah akan sirna dan berubah, sedangkan ketakwaan adalah dasar dari sebuah keselamatan yang akan menjaga dan tidak akan pernah tidur.”

Shayd Al-Khathir (1/39).

Continue reading “Orang Yang Berbahagia”

Orang Yang Berbahagia

Sabar dan Syukur Merupakan Kewajipan

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

“Ketahuilah, alangkah baiknya dua hal yang dibenci oleh manusia, yaitu kematian dan kefakiran. Demi Allah, perkara yang terpenting bukanlah kekayaan dan kefakiran, dan aku tidak peduli diuji dengan yang mana dari keduanya, jika diuji dengan kekayaan maka kewajibannya adalah bersyukur, dan jika diuji dengan kefakiran maka kewajibannya adalah bersabar, hal itu kerana hak Allah pada setiap keadaan dari keduanya wajib ditunaikan.”

Diriwayatkan oleh Waki’ di dalam Az-Zuhd no. 132, Ibnul Mubarak di dalam Az-Zuhd no. 566, Ahmad di dalam Az-Zuhd no. 844 dan Abu Nu’aim (1/132) dan ini adalah riwayat hasan.

Kasbul Halaal, karya Syaikhuna Muhammad Al-Imam hafizhahullah, hal. 24-25.

www.forumsalafy.net

Sabar dan Syukur Merupakan Kewajipan

Hikmah Kaya dan Miskin

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,

“Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang kaya, tiada seorang fakir pun di antara kalian. Seandainya Allah ‘azza wa jalla menghendaki pula, Dia menjadikan kalian semua sebagai orang fakir, tiada seorang kaya pun di antara kalian. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla hendak menguji sebahagian kalian dengan sebahagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menunjuki para hamba-Nya kepada akhlak yang mulia.

Dia ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung’.” (al-Hasyr: 9)

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

“Dahulu kami menganggap bahawa orang yang bakhil di antara kami ialah orang yang meminjamkan dirham kepada saudaranya. Sebab, dahulu kami bermuamalah dengan kebersamaan dan mendahulukan kepentingan orang lain. Demi Allah, sungguh, salah seorang yang pernah aku lihat dan aku bersahabat dengannya, membelah izar (pakaian bahagian bawah, semacam sarung, -pent.)nya lantas memberikannya kepada saudaranya….”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 65—66)

Hikmah Kaya dan Miskin