Tiada Alasan Bagi Mereka yang Berbuat Kesesatan yang Dianggap Petunjuk

Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,

“Umar bin Al-Khattab radiyallahu anhu berkata, ‘Allah tidak menerima uzur bagi seorangpun yang berbuat kesesatan yang dia anggap sebagai petunjuk, dan Allah tidak menerima uzur seseorangpun yang meninggalkan petunjuk yang dia anggap sebagai kesesatan, kerana semua perkara telah dijelaskan secara tuntas, dan hujjah telah ditegakkan secara sempurna sehingga tidak ada celah bagi sesiapapun untuk mencari alasan. As-Sunnah dan Al-Jamaah telah meletakkan kerangka agama secara sempurna dan telah tampak jelas kepada seluruh manusia dan manusia hanya tinggal mengikutinya.”

Syarhus-Sunnah Al Barbahari, poin no.4

Advertisement
Tiada Alasan Bagi Mereka yang Berbuat Kesesatan yang Dianggap Petunjuk

Tidak! Walaupun Satu Ayat

Dari Asma bin ‘Ubaid, ia berkata:

دَخَلَ رَجُلاَنِ مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ فَقَالاَ : يَا أَبَا بَكْرٍ نُحَدِّثُكَ بِحَدِيثٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالاَ : فَنَقْرَأُ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ؟ قَالَ : لاَ ، لَتَقُومَانِ عَنِّى أَوْ لأَقُومَنَّ. قَالَ : فَخَرَجَا فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ : يَا أَبَا بَكْرٍ وَمَا كَانَ عَلَيْكَ أَنْ يَقْرَآ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ : إِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْرَآ عَلَىَّ آيَةً فَيُحَرِّفَانِهَا فَيَقِرُّ ذَلِكَ فِى قَلْبِى

Dua orang ahlul ahwa datang kepada Ibnu Sirin, mereka berdua berkata: “Wahai Abu Bakr, kami akan membacakan kepadamu satu hadis!” Ibnu Sirin berkata: “Tidak!”, mereka berdua berkata: “Kalau begitu kami akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitabullah?” Ibnu Sirin berkata: “Tidak! Pergilah kalian dariku, atau aku yang pergi!” (Asma bin ‘Ubaid) berkata: Maka mereka berdua keluar, lalu beberapa orang bertanya:

“Wahai Abu Bakr, kenapa engkau (tidak mahu) ketika mereka akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitab Allah ta’ala?” Ibnu Sirin menjawab: “Aku khawatir mereka berdua akan membacakan kepadaku sebuah ayat, lalu mereka menyimpangkannya, kemudian hal itu (penyimpangan tersebut) akan menetap di hatiku.”

Diriwayatkan ad-Darimi dalam Sunan-nya (397), lihat Siyar A’lamin Nubala (11/285)

Tidak! Walaupun Satu Ayat

Menyamakan antara Kebenaran dan Kebatilan

Diberitakan kepada Al Auza’i, bahwa seseorang mengatakan, “Saya bermajelis dengan ahli sunnah dan saya juga bermajlis dengan ahli bidah.” Maka Al Auza’i mengatakan, “Orang ini ingin menyamakan antara kebenaran dengan kebatilan.”

Diriwayatkan oleh Ibn Battah dalam Al-Ibanah no.430

WhatsApp Thulab Fiyus via grup SLN
WA Forum Berbagi Faidah

ﻗﻴﻞ ﻟﻸﻭﺯﺍﻋﻲ ﺇﻥ ﺭﺟﻼ ﻳﻘﻮﻝ : “ﺃﻧﺎ ﺃﺟﺎﻟﺲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﺟﺎﻟﺲ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ.” ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲ :

“ﻫﺬﺍ ﺭﺟﻞ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺴﻮﻱ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻭﺍﻟﺒﺎﻃﻞ.”

[رواه ابن بطه في الإبانة رقم/ 430]

Menyamakan antara Kebenaran dan Kebatilan

Ikutilah Jalan Kebenaran

Berkata Fudhail bin Iyadh rahimahullah,

“Ikutilah jalan-jalan kebenaran dan tidak membahayakan Anda sedikitnya orang yang berjalan padanya. Hati-hatilah dari jalan-jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang binasa.”

(Al Itishom 1/263)

قال الفضيل بن العياض رحمه الله:

“اتبع طرق الهدى ولا يضرك قلة السالكين وإياك وطرق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين.”

Ikutilah Jalan Kebenaran

Barangsiapa Menyeru kepada Hidayah

Riwayat daripada Abu Hurairah radiyallahu anhu bahawa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallama bersabda,

“Barangsiapa menyeru kepada hidayah, nescaya dia mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangkan pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, nescaya dia mendapat dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangkan dosa mereka sedikitpun.”

Sahih Muslim

Barangsiapa Menyeru kepada Hidayah

Terbaliknya Hati

Berkata asy-Shaikh Rabi’ al-Madkhali hafidzahullah:

“Jika anda melihat seseorang di atas kebenaran, sementara yang lainnya di atas kesesatan, wajib bagi anda untuk membela kebenaran dan memperingatkan dari kebatilan. Jika tidak, maka anda adalah seseorang yang mati hatinya. Tidak mengenal mana yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan ini adalah tanda hati tersebut telah terbalik.”

Al-Majmu’ 14/271

Terbaliknya Hati