Inilah Kelompok yang Senantiasa Menang dan Berjaya

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Kaum muslimin di timur maupun barat, hati mereka satu, yaitu senantiasa loyal/cinta/setia kepada Allah dan Rasul-Nya serta hamba-hamba-Nya kaum mukminin; membenci/menentang para musuh Allah dan Rasul-Nya serta musuh-musuh para hamba-Nya kaum mukminin.

Hati mereka yang jujur dan do’a-do’a mereka yang tepat, itulah pasukan yang tak terkalahkan dan tentara yang tak akan gagal.

Sesungguhnya mereka adalah ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang senantiasa menang dan jaya) hingga hari Kiamat, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.”

Majmu al-Fatawa, 28/644

“والمسلمون في مشارق الأرض ومغاربها قلوبهم واحدةٌ مواليةٌ لله ولرسوله ولعباده المؤمنين ، معادية لأعداء الله ورسوله وأعداء عباده المؤمنين ، وقلوبهم الصادقة وأدعيتهم الصالحة هي العسكر الذي لا يُغْلَب ، والجند الذي لا يخذل ، فإنهم هم الطائفة المنصورة إلى يوم القيامة ، كما أخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم”.

مجموع الفتاوى(ج٢٨ / ٦٤٤).

Majmu’ah Manhajul Anbiya
Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

Inilah Kelompok yang Senantiasa Menang dan Berjaya

Orang Yang Berbahagia

Berkata Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah:-

“Ketahuilah bahwa zaman tidaklah akan tetap pada satu keadaan; sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla’:

( وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ) [سورة آل عمران140]

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” [QS. Ali Imran: 140]

Maka terkadang (menjadi) miskin dan terkadang kaya, terkadang jaya dan terkadang hina, terkadang membuat para penolong senang dan terkadang membuat musuh gembira.

Maka orang yang bahagia adalah orang yang tetap pada satu prinsip dalam keadaan bagaimanapun, yaitu (dalam keadaan) takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.

Kerana sejatinya dia jika kaya maka akan memperindah (keadaan)nya,  dan jika dia dalam keadaan miskin maka akan dibukakan baginya pintu kesabaran, dan jika dimudahkan (urusannya) maka menjadi sempurna kenikmatan baginya, dan jika dia diuji maka dia akan memikulnya, dan tidaklah bermudharat baginya jika zaman membuatnya terjatuh ataupun naik, atau membuatnya papa (miskin), membuatnya kenyang atau pun lapar, kerana itu semua pastilah akan sirna dan berubah, sedangkan ketakwaan adalah dasar dari sebuah keselamatan yang akan menjaga dan tidak akan pernah tidur.”

Shayd Al-Khathir (1/39).

Continue reading “Orang Yang Berbahagia”

Orang Yang Berbahagia

Hakikat Syukur Nikmat

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah berkata:

“Syukur nikmat memiliki lima rukun: Rukun Pertama: Mengakui nikmat dan menyaksikannya. Rukun Kedua: Mengakui yang memberi nikmat. Rukun Ketiga: Mengakui pihak yang menjadi sebab sampainya nikmat itu kepadamu. Rukun Keempat: Menggunakan nikmat tersebut pada hal-hal yang membuat redha pemberi nikmat (Allah Azza wa Jalla). Rukun Kelima: Menceritakan nikmat tersebut jika aman dari fitnah dan kedengkian.

Manusia ramai yang tertipu ketika Allah memberikan nikmat kepada mereka, dan termasuk nikmat yang manusia banyak tertipu padanya adalah kesihatan dan waktu luang.

Engkau boleh menjumpai orang yang badannya sihat namun dia tidak memanfaatkan kesihatannya untuk hal-hal yang diredhai oleh Allah. Demikian juga engkau boleh menjumpai orang yang memiliki waktu luang namun dia menyia-nyiakannya dan tidak menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah dan mencari redha-Nya, bahkan dia justru berusaha -kata mereka- memotong waktu dan membunuh waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat di dunia dan tidak pula bermanfaat di akhirat berupa perkara yang sia-sia. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

🌍 https://twitter.com/momalbaz/status/722564434695036929

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹

Hakikat Syukur Nikmat

Meninggalkan Amalan Sunnah Jika Mengganggu Orang Lain

Asy-Syaikh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin rahimahullah berkata:

ترك السنة لدفع الأذية خير من فعل السنة مع الأذية،
فهذا المتورك إذا كان بتوركه يؤذي جاره فلا يتورك.

“Meninggalkan amalan sunnah dengan tujuan agar tidak mengganggu orang lain lebih baik dibandingkan mengerjakan amalan yang hukumnya sunnah tersebut namun mengganggu orang lain. Contohnya duduk tawarruk (dalam solat), jika dengan melakukan duduk tawarruk akan mengganggu orang yang duduk di sampingnya, maka jangan melakukan duduk tawarruk.”

Liqa’ul Babil Maftuh, jilid 2 hlm. 38

Majmu’ah “Marhaban Ya Thalibal Ilmi”

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Meninggalkan Amalan Sunnah Jika Mengganggu Orang Lain