Duduk Yang Dibenci

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله

“Duduk yang  dimakruhkan (dibenci) hanyalah duduk yang disifati Nabi صلي الله عليه و سلم dengan duduknya orang-orang yang dimurkai (Yahudi) yakni duduk dengan cara meletakkan tangan beserta telapak tangan kiri pada lantai dibelakang  punggung lalu bersandar dengannya, maka duduk ini disifati Nabi صلي الله عليه و سلم dengan duduknya orang-orang yang dimurkai.

Adapun meletakkan kedua tangan seluruhnya atau pun tangan kanan dibelakang punggung dan bersandar dengannya tidaklah masalah.

Kerana yang disifati Nabi صلي الله عليه و سلم dengan duduknya orang-orang yang dimurkai hanyalah duduk bersandar pada lantai dengan telapak tangan kiri dibelakang punggung. Sehingga Inilah duduk yang disifati Nabi صلي الله عليه و سلم dengan duduknya orang-orang yang dimurkai.”

Syarhu Riyadhish Shalihin

Continue reading “Duduk Yang Dibenci”

Duduk Yang Dibenci

Bolehkah Mengatakan Orang Kafir Sebagai Saudara?

Asy-Syaikh Soleh Al-Fauzan hafizhahullah

Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, bagaimana pendapat Anda tentang ucapan sebagian mufti, terkhusus yang ada di rancangan-rancangan televisyen dengan mengatakan: “Saudara-saudara kita orang-orang Nashara.” Atau ungkapan-ungkapan yang semisalnya, dengan berdalih bahawa semuanya beriman?

Asy-Syaikh:

Ini termasuk kekafiran dan kesesatan, kita berlindung kepada Allah darinya. Orang yang menganggap bahawa Yahudi dan Nashara sebagai muslimin dan orang-orang yang beriman serta sebagai saudara, maka ini merupakan kemurtadan dari agama Islam. Semua yang tidak mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi was sallam maka dia kafir. Siapa saja yang tidak mengikuti Muhammad sallallahu alaihi was sallam maka dia kafir, sama saja apakah dia seorang Yahudi atau Nashara atau selainnya. Setelah diutusnya Nabi sallallahu alaihi was sallam tidak ada lagi agama dan keimanan kecuali dengan mengikuti beliau sallallahu alaihi was sallam.

Baca selengkapnya:
http://forumsalafy.net/?p=2638

Bolehkah Mengatakan Orang Kafir Sebagai Saudara?

Bencinya pada Pengikut Hawa Nafsu

Berkata Abu Musa,

“Bertetangga dengan orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, kera-kera, dan khinzir-khinzir lebih saya sukai daripada bertetangga dengan pengikut hawa nafsu yang akan membuat penyakit di hatiku.”

(Al Ibanah 2/468)

قال أبو موسى :

“لأن أجاور يهوديا ونصرانيا، وقردة وخنازير، أحب إلي من أن يجاورني صاحب هوى يمرض قلبي.”

[الإبانة :٢/٤٦٨]

Bencinya pada Pengikut Hawa Nafsu

Mentahzir Ahli Bid’ah Menghadapi Orang Kafir

Kenapa Sibuk Mentahdzir Ahli Bid’ah, Padahal Kita Menghadapi Orang Kafir

Asy-Syaikh Soleh Al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan: Kenapa sibuk mentahdzir ahli bid’ah, padahal umat sedang menghadapi permusuhan Yahudi dan Nashara serta orang-orang sekuler?

Jawaban: Kaum Muslimin tidak akan mungkin mampu untuk melawan Yahudi dan Nashara kecuali jika mereka telah mampu mengatasi berbagai bid’ah yang ada di tengah-tengah mereka. Jadi mereka mengubati penyakit yang ada pada diri mereka terlebih dahulu, agar mereka mendapatkan pertolongan atas Yahudi dan Nashara. Adapun selama kaum Muslimin masih terus mensia-siakan agama mereka dan suka melakukan berbagai bid’ah dan hal-hal yang diharamkan serta meremehkan dalam menjalankan syari’at Allah, maka mereka tidak akan mungkin mendapatkan pertolongan atas Yahudi dan Nashara. Hanyalah orang-orang kafir itu dijadikan menguasai umat Islam disebabkan kerana mereka mensia-siakan agama mereka. Maka wajib membersihkan masyarakat dari berbagai bid’ah dan dari berbagai kemungkaran. Juga wajib melaksanakan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah Rasulullah sallallahu alaihi was sallam sebelum kita memerangi Yahudi dan Nashara. Kalau tidak demikian, maka jika kita memerangi Yahudi dan Nashara dalam keadaan seperti ini, kita tidak akan mungkin mengalahkan mereka selama-lamanya. Justru merekalah yang akan mengalahkan kita dengan sebab dosa-dosa yang kita lakukan.

Sumber artikel:
Al-Ijaabaat Al-Muhimmah Fil Masyaakilil Mudlahimah, hal. 208-209

Alih bahasa: Abu Almass
Kamis, 23 Rajab 1435 H

Sumber
http://forumsalafy.net/?p=3379

Mentahzir Ahli Bid’ah Menghadapi Orang Kafir

Bukan Termasuk Golongan Kami

Dari Amr ibn Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya”

(HR Tirmidzi, hasan)

Bukan Termasuk Golongan Kami

Mengikuti Yahudi dan Nasrani

Sabda Nabi sallallahu alaihi wasallama,

“Sungguh, kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. Kalaupun mereka menempuh jalur lubang dhabb (binatang sejenis biawak), nescaya kalian akan menempuhnya.” Kami mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

(HR. al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 4822 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Mengikuti Yahudi dan Nasrani