HILANG SATU SUMBER REZEKIMU, MASIH BANYAK SUMBER YANG LAIN

💰HILANG SATU SUMBER RIZKIMU, MASIH BANYAK SUMBER YANG LAIN

ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺍﻟﺠﻮﺯﻳﺔ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :
“ ﻓﺮِّﻍ ﺧﺎﻃﺮﻙ ﻟﻠﻬﻢ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻣﺮﺕ ﺑِﻪِ، ﻭَﻟَﺎ ﺗﺸﻐﻠﻪ ﺑِﻤَﺎ ﺿﻤﻦ ﻟَﻚ، ﻓَﺈِﻥ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻭَﺍﻟْﺄَﺟَﻞ ﻗﺮﻳﻨﺎﻥ ﻣﻀﻤﻮﻧﺎﻥ، ﻓَﻤَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﺍﻟْﺄَﺟَﻞ ﺑَﺎﻗِﻴﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﺁﺗِﻴَﺎ،ﻭَﺇِﺫﺍ ﺳﺪ ﻋَﻠَﻴْﻚ ﺑِﺤِﻜْﻤَﺘِﻪِ ﻃَﺮِﻳﻘﺎ ﻣﻦ ﻃﺮﻗﻪ، ﻓﺘﺢ ﻟَﻚ ﺑﺮﺣﻤﺘﻪ ﻃَﺮِﻳﻘﺎ ﺃَﻧْﻔَﻊ ﻟَﻚ ﻣِﻨْﻪُ،ﻓﺘﺄﻣّﻞ ﺣَﺎﻝ ﺍﻟْﺠَﻨِﻴﻦ ﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻏﺬﺍﺅﻩ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺪَّﻡ ﻣﻦ ﻃَﺮِﻳﻖ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓ، ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺴُّﺮَّﺓ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ ﺍﻟْﺄُﻡ، ﻭﺍﻧﻘﻄﻌﺖ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖ، ﻓﺘﺢ ﻟَﻪُ ﻃَﺮِﻳﻘﻴﻦ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ، ﻭﺃﺟﺮﻯ ﻟَﻪُ ﻓﻴﻬﻤَﺎ ﺭﺯﻗﺎ ﺃﻃﻴﺐ ﻭﺃﻟﺬ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﻝ : ﻟَﺒَﻨًﺎ ﺧَﺎﻟِﺼﺎ ﺳﺎﺋﻐﺎ،ﻓَﺈِﺫﺍ ﺗﻤﺖ ﻣُﺪَّﺓ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻉ، ﻭﺍﻧﻘﻄﻌﺖ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺎﻥ ﺑﺎﻟﻔﻄﺎﻡ، ﻓﺘﺢ ﻃﺮﻗﺎً ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔ ﺃﻛﻤﻞ ﻣِﻨْﻬَﺎ، ﻃﻌﺎﻣﺎﻥ ﻭﺷﺮﺍﺑﺎﻥ، ﻓﺎﻟﻄﻌﺎﻣﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟْﺤَﻴَﻮَﺍﻥ ﻭﺍﻟﻨﺒﺎﺕ، ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺑﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟْﻤِﻴَﺎﻩ ﻭﺍﻷﻟﺒﺎﻥ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻀَﺎﻑ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻤَﺎ ﻣﻦ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻓِﻊ ﻭﺍﻟﻤﻼﺫ . ﻓَﺈِﺫﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻧْﻘَﻄَﻌﺖ ﻋَﻨﻪُ ﻫَﺬِﻩ ﺍﻟﻄّﺮﻕ ﺍﻟْﺄَﺭْﺑَﻌَﺔ، ﻟﻜﻨﻪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻓﺘﺢ ﻟَﻪُ ﺇِﻥ ﻛَﺎﻥَ ﺳﻌﻴﺪﺍ ﻃﺮﻗﺎ ﺛَﻤَﺎﻧِﻴَﺔ، ﻭَﻫِﻲ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏ ﺍﻟْﺠﻨَّﺔ ﺍﻟﺜَّﻤَﺎﻧِﻴﺔ ﻳﺪْﺧﻞ ﻣﻦ ﺃَﻳﻬَﺎ ﺷَﺎﺀَ، ﻓَﻬَﻜَﺬَﺍ ﺍﻟﺮﺏ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻟَﺎ ﻳﻤْﻨَﻊ ﻋَﺒﺪﻩ ﺍﻟْﻤُﺆﻣﻦ ﺷَﻴْﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻭﻳﺆﺗﻴﻪ ﺃﻓﻀﻞ ﻣِﻨْﻪُ ﻭﺃﻧﻔﻊﻟَﻪُ،ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺫَﻟِﻚ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟْﻤُﺆﻣﻦ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳﻤﻨﻌﻪُ ﺍﻟْﺤَﻆ ﺍﻟْﺄَﺩْﻧَﻰ ﺍﻟﺨﺴﻴﺲ، ﻭَﻟَﺎ ﻳﺮﺿﻰ ﻟَﻪُ ﺑِﻪِ، ﻟﻴﻌﻄﻴَﻪ ﺍﻟْﺤَﻆ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ ﺍﻟﻨﻔﻴﺲ . ﺍﻟﻔﻮﺍﺋﺪ ﻻﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﺹ 57

🎙Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullahu ta’ala berkata:

💡Curahkanlah segenap pikiranmu untuk merenungkan apa saja yang diperintahkan Allah kepadamu. Dan janganlah menyibukkan pikiranmu dengan rizki yang sudah dijamin untukmu. Karena rizki dan ajal adalah dua hal yang sudah terjamin, selama masih ada sisa ajal maka rizki pasti datang.
Jika Allah -dengan kebijaksanaanNya-berkehendak menutup salah satu jalan rizkimu, Dia -dengan rahmatNya- pasti membukakann jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.
Perhatikanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar. Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rizki itu, Allah bukakan baginya dua jalan rizki yang lain (yaitu dua puting ibunya).Dan Allah mengalirkan untuknya pada dua jalan itu berupa rizki yang lebih baik dan lebih lezat dari rizki yang pertama, yaitu rizki berupa susu murni yang lezat.
Lalu ketika masa menyusui sudah selesai dan terputus dua jalan rizki tadi dengan cara penyapihan, Allah membuka empat jalan rizki lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua jenis makanan dan dua jenis minuman. Dua makanan dari jenis hewani dan nabati ,juga dua jenis minuman yakni dari air dan susu beserta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.
Lalu ketika dia meninggal dunia, terputuslah empat jalan rizki tadi.Namun Allah subhanahu membuka baginya delapan jalan rizki -jika dia termasuk hamba yang beruntung- , berupa pintu-pintu surga yang berjumlah delapan yang dia boleh memasuki surga itu dari mana saja dia kehendaki.
Dan begitulah Allah subhanahu,Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia memberikan sesuatu yang lebih utama dan lebih bermanfaat baginya.Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya,dengan tujuan untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.

Al Fawaaid karya Ibnul Qayyim hal. 57

✍ Penerjemah : Abu Mas’ud Jarot ﻋﻔﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ

📚Sumber :Forum Salafy Surabaya

📤Turut sebarkan : https://t.me/CTIS_ChannelTelegramIlmuSyari

HILANG SATU SUMBER REZEKIMU, MASIH BANYAK SUMBER YANG LAIN

DOSA MENGHALANGI KETAATAN KEPADA ALLAH

🔥🔇💥 DOSA MENGHALANGI KETAATAN KEPADA ALLAH

✍🏼 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إذا ثقل الظهر بالأوزار، منع القلب من السير إلى الله والجوارح من النهوض في طاعته.

“Jika belakang telah berat memikul dosa-dosa, maka hati akan terhalangi untuk berjalan menuju Allah dan anggota badan juga akan terhalangi untuk bangkit melaksanakan ketaatan kepada-Nya.”

📚 Bada’iut Tafsir, jilid 3 hlm. 332

🌍 Sumber || https://twitter.com/alsa7e7a/status/736265667066925057

 WhatsApp Salafy Indonesia
 Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

DOSA MENGHALANGI KETAATAN KEPADA ALLAH

PENDEKNYA HIDUP DI DUNIA

Ibnul Jauzy rahimahullah menasihati anaknya,

“Dan apabila ia kembali membayangkan masa hidupnya di dunia -misalnya enam puluh tahun¬-, maka sekitar tiga puluh tahun ia habiskan waktunya untuk tidur, lima belas tahun di waktu kecil, dan sisanya sebahagian besar dihabiskan untuk kepentingan syahwat, makan, dan mencari penghidupan. Dan jika dihitung apa-apa yang ia perbuat untuk akhiratnya, maka yang ada hanyalah amalan riya dan banyak lalai.

Jika demikian, maka dengan apa engkau membeli kehidupan yang abadi nanti? Sedangkan waktu adalah harganya.”

Laftatul Kabad Fi Nasihatil Walad, Ibnul Jauzy

PENDEKNYA HIDUP DI DUNIA

PEMAHAMAN YANG BENAR TENTANG AYAT TERAKHIR DALAM SURAH AL-KAFIRUN

💡📖 PEMAHAMAN YANG BENAR TENTANG AYAT TERAKHIR DALAM SURAH AL-KAFIRUN

Menurut Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah, salah seorang ulama terkemuka di Kerajaan Saudi Arabia, ayat terakhir Surah al-Kafirun bukan sebagaimana dipahami sebagian orang sesat dan bodoh yang menyebutkan ayat tersebut bukan pengingkaran terhadap keyakinan musyrikin.

Ayat itu tidak menunjukkan sikap saling meridhai antara kita dan orang-orang kafir, ridha dengan keyakinan kaum musyrikin. Tidak pula menunjukkan sikap persamaan antara kita dan kaum kafir.

Ayat itu justru memberi penegasan sikap bara’ah (benci dan memusuhi) terhadap agama (keyakinan) kaum musyrikin. Sikap tegas, tidak mencari muka di hadapan mereka. Tidak memuji agama (keyakinan) kaum musyrikin. Tidak pula saling menolong dalam urusan keyakinan. Ini terkait urusan agama. Urusan keyakinan.

Adapun urusan keduniaan, dalam urusan yang mubah, seperti jual beli, tentu boleh.

لَّا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یُقَـٰتِلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَلَمۡ یُخۡرِجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِینَ

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Mumtahanah: 8) (Tafsir Juz ‘Amma, hlm. 654-655)

Dengan alasan agar hubungan baik (ishlah: toleransi beragama) terjalin antara pemeluk Islam dan pemeluk agama paganis, kaum musyrikin Quraisy menawarkan kesepakatan untuk saling menghormati dalam peribadahan. Namun, semua itu ditepis. Sebab, seorang muslim tidak boleh membenarkan keyakinan yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesyirikan harus tetap diperangi.

Adapun berbuat baik dalam perkara-perkara kemanusiaan dan dibolehkan syariat, seorang muslim boleh menunaikannya. Misalnya, seorang muslim mengantar tetangganya non-Islam yang sakit untuk berobat ke rumah sakit.

📗 Sumber: Majalah Asy Syariah edisi 123 ISLAM AGAMA TOLERAN

~
🌎Website: http://www.asysyariah.com
📲Channel: t.me/asysyariah

PEMAHAMAN YANG BENAR TENTANG AYAT TERAKHIR DALAM SURAH AL-KAFIRUN

MENDEKAT SAJA JANGAN, APALAGI MENGUCAPKAN SELAMAT

✋🏻❌⛔‼ MENDEKAT SAJA JANGAN, APALAGI MENGUCAPKAN SELAMAT

✍🏻 Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah musuh-musuh Allah pada hari raya mereka.”

📚 Al-Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra “Kitab Al-Jizyah” no.18862 hlm. 392

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

MENDEKAT SAJA JANGAN, APALAGI MENGUCAPKAN SELAMAT

AIR MATA MEREKA ABADI DALAM FIRMAN-NYA

✋🏻💦💐🌹 AIR MATA MEREKA ABADI DALAM FIRMAN-NYA

Pemilik air mata ini bukanlah sosok-sosok yang masyhur namanya. Bukan pula orang-orang yang harum dikenal dengan harta dan kedermawanannya.

Sebaliknya, mereka hanyalah sekelompok kecil dari kalangan fuqara (fakir) kaum muslimin.

Dan inilah kisah mereka.

Di tengah kemarau panjang, Perang Tabuk datang membayang. Minimnya perbekalan dan kendaraan semakin mempersulit kondisi pasukan tauhid ketika itu.

Namun, terik dan panas matahari justru membakar semangat juang para sahabat, sekalipun kaum munafikin tiada henti terus menggembosi.

Saat beberapa cakupan tangan dari buah kurma tampak disedekahkan, orang-orang munafik berkomentar, “Allah tidak butuh dengan sedekah yang sedikit itu.”

Manakala sejumlah harta yang tidak sedikit diinfakkan, kaum munafik pun mencacat, “Sedekah yang banyak itu hanyalah demi mengharap pujian manusia semata.”

Demikian keji dan sombong ucapan orang-orang munafik itu.

Namun, kebaikan pantanglah surut. Silih berganti yang berharta datang berderma sesuai dengan apa yang mereka punya. Menginfakkannya demi meraih ridha Allah ta’ala semata.

Adapun mereka yang tiada berharta, tetap tegak dada mereka. Sigap dengan tunggangan perangnya. Siap turun ke medan laga.

Kalbu-kalbu yang disinari cahaya keimanan itu sedikit pun tiada meredup. Pemandangan yang ada benar-benar sarat semangat juang.

Bumi Madinah tampak kokoh dengan pilar iman dan tawakal para sahabat. Tak ada kesedihan ataupun ketakutan. Sebaliknya, aroma optimisme akan janji Allah benar-benar menyelimuti persiapan perang saat itu.

Hingga tibalah ketujuh orang itu, datang beriringan menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kepada beliau, mereka memohon dengan sangat. Demi izinnya, mereka rajut harapan. Satu yang mereka pinta: agar turut disertakan dalam perjalanan jihad yang suci.

Di sisi lain, Tabuk bukanlah jarak yang dekat. Medan yang dilalui pun sangatlah berat. Lembah yang membentang dan sahara yang terhampar menanti nun jauh di sana.

Keterbatasan hewan tunggangan saat itu tak menyisakan jatah bagi mereka sekalipun hanya sekadar untuk bergantian.

Mereka terus mengiba. Seakan tak rela bila sampai momen emas berjuang bersama Nabi terluputkan. Namun apa daya, Rasulullah yang penuh kasih tak sampai hati memaksakan keikutsertaan mereka.

Pada akhirnya,

َ لاَ أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ

terucap dari lisan mulia beliau.

“Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.”

Sebuah jawaban yang tak sedikit pun diharapkan oleh mereka. Bagaimana mungkin berharap penolakan? Sementara mereka sadar, satu-satunya peluang untuk turut andil dalam peperangan kali ini hanyalah dengan sumbangsih raga dan nyawa yang mereka miliki.

Ketiadaan harta benda semakin membuat hati mereka terpukul. Bagaimana tidak? Di tengah kondisi yang sangat sulit dan berat, tak ada derma terhatur, tidak pula raga dan tenaga terulur.

Keimanan yang jujur dalam sanubari membuat ketujuh orang ini merasa sedih. Ketidakmampuan diri untuk berkorban benar-benar menyesakkan dada mereka.

Di saat itulah, air mata mereka menetes.

Tentang mereka, Allah ta’ala berkisah,

تَوَلَّواْ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَناً أَلاَّ يَجِدُواْ مَا ينفقون

“Lalu mereka pun kembali dalam keadaan bercucuran air mata lantaran tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan untuk berjihad.”

Ya. Tangisan mereka terukir kekal dalam al-Quran.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

“Manakala Allah menyaksikan semangat mereka dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah turunkan ayat ini (QS. at-Taubah: 91-93) sebagai wujud pemberian uzur untuk mereka.” (Lihat Umdah at-Tafsir ‘an al-Hafizh Ibn al-Katsir 2/189)

Sebuah tangisan lantaran ketidakmampuan dalam beramal ketaatan.

Sudahkah jenis air mata itu membasahi pelupuk mata kita?

📚 Disadur dari tafsir Surah at-Taubah dari kitab Tafsir al-Quran al-‘Azhim karya ulama ahli tafsir Ibnul Katsir rahimahullah

🌎 Kunjungi || https://forumsalafy.net/air-mata-mereka-abadi-dalam-firman-nya/

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia

AIR MATA MEREKA ABADI DALAM FIRMAN-NYA

INGATLAH NERAKA

❌⚠💦📢 INGATLAH NERAKA

✍ Abul-Jauza’ rahimahullah menyatakan,

لو وليت من أمر الناس شيئا اتخذت منارا على الطريق وأقمت عليها رجالا ينادون في الناس: النار النار

“Jika aku diberi amanah untuk mengatur urusan masyarakat, niscaya aku akan membangun sebuah menara di tepi jalanan. Akan aku tugaskan beberapa orang untuk menyeru (dari atas menara tersebut), “Ingatlah neraka! Awas neraka!”

📚 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhud. Dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab At-Takhwif min An-Nar, hlm. 72

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎

INGATLAH NERAKA