Ramadan Bagaikan Yusuf di antara Saudaranya

Berkata Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah:

“Bulan (dalam setahun) ada dua belas seperti anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihis salam, dan bulan Ramadhan laksana Yusuf diantara saudara-saudaranya. Sebagaimana sejatinya Yusuf adalah anak kesayangan Nabi Ya’qub maka demikian halnya dengan Ramadhan adalah bulan yang paling dikasihi oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui Perkara yang ghaib.

Datang saudara-saudara Yusuf bersandar kepadanya untuk menutupi kekurangan dan menghilangkan kerosakan; setelah sebelumnya mereka menjadi orang-orang yang berbuat kesalahan dan penyimpangan maka Yusuf pun menempatkan mereka dengan baik dan memperbaiki keadaan mereka serta memberikan mereka makan dari kelaparan dan juga mengizinkan mereka untuk datang kembali, sehingga yang satu dapat menutup celah yang dua belas maka demikian halnya dengan bulan Ramadhan kita berharap Ramadhan dapat menutupi apa yang terluputkan oleh kita padanya di bulan-bulan yang lain dan kita dapat memperbaiki padanya hal-hal yang rosak sehingga ditutupkan bagi kita dengan kebahagiaan dan kegembiraan.

Dan isyarat lainnya; kembalinya penglihatan Ya’qub tatkala mendapatkan aroma Yusuf dan jadilah setelah kelemahan menjadi kuat, setelah buta menjadi dapat melihat dan demikian halnya dengan pelaku maksiat apabila dia mencium aroma Ramadhan.”

Bustan Al-Wa’izhin wa Riyadh As-Sami’in, Ibnul Jauzi hal: (231) Continue reading “Ramadan Bagaikan Yusuf di antara Saudaranya”

Advertisements
Ramadan Bagaikan Yusuf di antara Saudaranya

Orang Yang Berbahagia

Berkata Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah:-

“Ketahuilah bahwa zaman tidaklah akan tetap pada satu keadaan; sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla’:

( وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ) [سورة آل عمران140]

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” [QS. Ali Imran: 140]

Maka terkadang (menjadi) miskin dan terkadang kaya, terkadang jaya dan terkadang hina, terkadang membuat para penolong senang dan terkadang membuat musuh gembira.

Maka orang yang bahagia adalah orang yang tetap pada satu prinsip dalam keadaan bagaimanapun, yaitu (dalam keadaan) takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.

Kerana sejatinya dia jika kaya maka akan memperindah (keadaan)nya,  dan jika dia dalam keadaan miskin maka akan dibukakan baginya pintu kesabaran, dan jika dimudahkan (urusannya) maka menjadi sempurna kenikmatan baginya, dan jika dia diuji maka dia akan memikulnya, dan tidaklah bermudharat baginya jika zaman membuatnya terjatuh ataupun naik, atau membuatnya papa (miskin), membuatnya kenyang atau pun lapar, kerana itu semua pastilah akan sirna dan berubah, sedangkan ketakwaan adalah dasar dari sebuah keselamatan yang akan menjaga dan tidak akan pernah tidur.”

Shayd Al-Khathir (1/39).

Continue reading “Orang Yang Berbahagia”

Orang Yang Berbahagia

Menghalangi Manusia Dari Ilmu

Al ‘Allamah Ibnul Jauzi rahimahullaahu berkata,

اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم؛ لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء.

“Ketahuilah bahwasanya tipu daya iblis yang pertama kali mereka lancarkan kepada umat manusia adalah usahanya untuk menghalangi mereka dari ilmu, kerana ilmu adalah cahaya. Apabila iblis telah mematikan cahaya mereka, maka dia mampu memukulnya (menyesatkannya) di dalam kegelapan sekehendak dia.”

(Talbisu iblis: 1/289).

Continue reading “Menghalangi Manusia Dari Ilmu”

Menghalangi Manusia Dari Ilmu

Orang-Orang Yang Bertakwa Dicinta Di Dunia Dan Selamat Di Akhirat.

Berkata Al-Hāfizh Ibnul Jauzi råhimahulläh:

Penguasa yang adil dan tenteranya; mereka memerangi musuh dan membuka kota-kota serta mendapatkan harta-harta rampasan sehingga hal itu bagi mereka merupakan kelazatan di dunia mereka dan pahala di akhirat mereka.

Continue reading “Orang-Orang Yang Bertakwa Dicinta Di Dunia Dan Selamat Di Akhirat.”

Orang-Orang Yang Bertakwa Dicinta Di Dunia Dan Selamat Di Akhirat.

Zuhud di Dunia dan Mencari Akhirat

Berkata Al-Imām Ibnul Jauzi råhimahulläh:

“Semestinya bagi setiap hamba yang beriman kepada Råbb-nya apabila dia melihat kepada bunga dunia kemudian dunia itu mengundangnya untuk mendekat kepadanya dengan kecantikannya yang indah; untuk mengatakan kepadanya dengan Lisānul hāl-nya (perilakunya):

“Menjauhlah engkau dariku wahai yang lekas sirna, sejatinya engkau hanyalah pantas bagi orang yang merindukan kepada sebuah negeri yang bagi penghuninya tidak ingin berpindah darinya kerana engkau tidak bernilai lagi fana sedangkan itu (yakni akhirat, pent) berharga lagi abadi”

maka hendaklah akal-akal manusia dapat membezakan antara keduanya.”

At-Tadzkiråh Fi Al-Wa’zh, halaman 24. Continue reading “Zuhud di Dunia dan Mencari Akhirat”

Zuhud di Dunia dan Mencari Akhirat