BERTASBIH DALAM KEADAAN LAPANG DAN SULIT

🍂💦💧💧
BERTASBIH DALAM KEADAAN LAPANG DAN SULIT

💺Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu :

“Tidaklah seorang nabi di antara para nabi ketika mengalami kesulitan kecuali ia beristighotsah (memohon pertolongan kepada Allah) dengan bertasbih, maka perbanyaklah bertasbih dalam keadaan lapang maupun sulit.”

📚 [Al-Jawab al-Kafi lil Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (1/7)]
┉┉✽̶»̶̥»̶̥✽̶┉┉

قال ابن مسعود رضي الله عنه :

” ما كُرِب نبي من الأنبياء إلا استغاث بالتسبيح فأكثروا من التسبيح في الرخاء والشدة “.

📚 الجواب الكافي للإمام ابن القيم رحمه الله ( 1 / 7 )

(🌹)
📝💻 Majmu’ah Hikmah Salafiyyah ||  https://t.me/hikmahsalafiyyah

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Advertisements
BERTASBIH DALAM KEADAAN LAPANG DAN SULIT

TIDAK ADA SHALAT RAGHA’IB, TIDAK ADA SHALAT TERTENTU, TIDAK ADA PUASA TERTENTU PADA BULAN RAJAB!!!

⛔💥❌ TIDAK ADA SHALAT RAGHA’IB, TIDAK ADA SHALAT TERTENTU, TIDAK ADA PUASA TERTENTU PADA BULAN RAJAB!!!

———–
🔲 ‏قال الحافظ ابن حجر العسقلاني الشافعي:
لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه ولا في صيام شيء منه معين،ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه،حديث صحيح يصلح للحجة. اهـ

☀🌅 IBNU HAJAR AL-‘ASQALANI ASY-SYAFI’I:
” Tidak ada satu HADITS SHAHIH PUN yang bisa dijadikan hujjah (argumen/dasar hukum) tentang keutamaan bulan Rajab , tidak pula keutamaan berpuasa padanya, dan tidak pula keutamaan puasa di hari-hari tertentu padanya, dan tidak pula shalat malam secara khusus padanya.”

📚 Tabyiin al-‘Ajab, hal. 18

📘 unduh kitab “TABYIINU AL-‘AJAB bi maa Warada fi Fadhli Rajab” | PDF
📥 http://goo.gl/LzHbGJ

……………………………

🔲 ‏قال ابن رجب:
لم يصح في شهر رجب صلاة مخصوصة تختص به، والأحاديث المروية في فضل صلاة الرغائب أول ليلةجمعة من شهر رجب كذب، وهذه الصلاة بدعة عند جمهورالعلماء. اھ

Ⓜ Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah juga berkata,

“Tidak shahih tentang suatu shalat tertentu di bulan Rajab yang khusus di bulan tersebut. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan shalat Ragha’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab adalah DUSTA, dan SHALAT INI BID’AH menurut mayoritas (jumhur) ulama’.”
📚 Latha’if al-Ma’arif, hal. 118

………………………………

⛵ ‏قال الحافظ ابن رجب الحنبلي البغدادي:
وأما الصيام فلم يصح في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه. اهـ

Ibnu Rajab Al-Hanbali Al-Baghdadi rahimahullah mengatakan,

“Adapun puasa, maka TIDAK SAH SATU HADITS PUN dari Nabi shallallahu alaihi was sallam, tidak pula dari ucapan shahabat-Nya tentang keutamaan puasa di bulan Rajab secara khusus.”
📚 Latha’if al-Ma’arif, hal. 118

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~

TIDAK ADA SHALAT RAGHA’IB, TIDAK ADA SHALAT TERTENTU, TIDAK ADA PUASA TERTENTU PADA BULAN RAJAB!!!

Tahdzir (Peringatan) dari AMALAN-AMALAN YANG TIDAK ADA TUNTUNANNYA pada BULAN RAJAB

🔥 ⛔❗Tahdzir (Peringatan) dari AMALAN-AMALAN YANG TIDAK ADA TUNTUNANNYA pada BULAN RAJAB

🚪🔎 Bulan Rajab sudah di ambang pintu. Banyak tersebar hadits-hadits tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab. Maka semua hadits-hadits tersebut adalah hadits-hadits yang lemah atau palsu, dan tidak ada asalnya dalam sunnah.

1⃣ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa  (XXV/290):

“Adapun puasa Rajab secara khusus, maka semua hadits-haditsnya adalah LEMAH, bahkan PALSU. Para ‘ulama tidak menjadikan satu pun dari hadits-hadits tersebut sebagai landasan. Hadits-hadits tersebut bukanlah termasuk hadits-hadits lemah yang diriwayatkan dalam fadha-il amal. Namun mayoritasnya adalah palsu yang didustakan (atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen).”

2⃣ Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

” Semua hadits yang menyebutkan puasa pada bulan Rajab dan (keutamaan) shalat pada beberapa malam pada bulan tersebut, maka itu adalah dusta yang dibuat-buat.”
📚(al-Manar al-Munif hal.97)

3⃣ Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

” Tidak ada dalil tentang keutamaan bulan Rajab, keutamaan berpuasa pada bulan tersebut, atau pada satu hari tertentu dari bulan tersebut. Demikian pula tentang keutamaan menghidupkan satu malam secara khusus pada bulan tersebut, tidak ada satu hadits shahih pun tentang masalah ini yang bisa dijadikan sebagai landasan.”
📚 (Tabyinu al-‘Ajab hal. 11)

4⃣ Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya,

📜 “Banyak pertanyaan tentang bulan Rajab dan berpuasa pada bulan tersebut, apakah bulan Rajab memiliki kekhususan tertentu?

🔅 Beliau menjawab,
“Mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa tathawwu merupakan sesuatu yang TERCELA. Karena itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, yang dulu mereka mengagungkan bulan Rajab.
👉💥 Para ‘ulama mencela perbuatan menyendirikan/mengkhususkan puasa tathawwu’ pada bulan Rajab.

Adapun apabila seseorang berpuasa pada bulan tersebut karena membayar hutang puasa Ramadhan, atau karena puasa kaffarah, maka yang demikian tidak mengapa. Atau berpuasa Senin – Kamis, atau puasa tiga hari pada ayyamul bidh, ini semua tidak mengapa (dilakukan) sebagaimana pada bulan-bulan lainnya. Walhamdulillah.”

http://www.binbaz.org.sa/mat/13706

5⃣ Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang berpuasa pada hari ke-27 pada bulan Rajab dan menghidupkan malamnya?

➿ Maka beliau menjawab :

“Berpuasa pada hari ke-27 bulan Rajab dan menghidupkan malam harinya, serta mengkhususkannya adalah BID’AH. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

📚 (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin XX/440)

•••••••••••••••••••••
🌠📝📡 Majmu’ah Manhajul Anbiya
📟▶ Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
💻 Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

~~~~~~~

Tahdzir (Peringatan) dari AMALAN-AMALAN YANG TIDAK ADA TUNTUNANNYA pada BULAN RAJAB

DI ANTARA DZIKIR YANG PENDEK BACAANNYA, NAMUN SANGAT BESAR KEUTAMAANNYA

🔎💐🌷🍀🌾
DI ANTARA DZIKIR YANG PENDEK BACAANNYA, NAMUN SANGAT BESAR KEUTAMAANNYA

📕Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

🌄”Barangsiapa di waktu pagi dan petang mengucapkan

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

(SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI)
sebanyak seratus kali

📮 maka pada hari kiamat nanti tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama daripada bacaan dzikir tersebut,

📎 kecuali amalan seorang yang mengucapkan seperti dzikir yang dia ucapkan itu atau menambah bacaan dzikir yang lebih dari itu.”
📚 Sumber : Shahih Muslim, no. 2692
Semoga Allah ta’ala mudahkan untuk mengamalkannya.
〰〰➖📃➖〰
🌷📝 Kajian Islam Al-Husna
Mengajak Anda berbagi untuk sesama dengan menebarkan ilmu agama
📲 Mari bergabung di channel kami http://telegram.me/KajianIslamAlHusna
🌏 Situs Resmi http://www.salafykediri.com

DI ANTARA DZIKIR YANG PENDEK BACAANNYA, NAMUN SANGAT BESAR KEUTAMAANNYA

JANJI SURGA BAGI YANG SERIUS MENJAGA SHALAT SHUBUH DAN ASHAR

🌷🌷 💐💐
JANJI SURGA BAGI YANG SERIUS MENJAGA SHALAT SHUBUH DAN ASHAR
➖➖➖➖➖➖

📃 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat al-Bardain, maka ia masuk al-Jannah.”
(Mutttafaqun Alaihi)

💺Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menerangkan,

📝 Shalat al-Bardain (dua dingin) adalah shalat Fajar (Shubuh) dan shalat Ashar. Dinamakan demikian karena shalat Fajar dilakukan saat cuaca paling dingin di malam harinya (malam yang paling dingin adalah di waktu Shubuh), sedangkan shalat Ashar dilakukan pada saat cuaca paling dingin di siang harinya (siang hari yang paling dingin adalah di waktu Ashar) setelah tergelincir matahari.

📝 Barangsiapa yang mengerjakan dua shalat tersebut, maka ia akan masuk al-Jannah. Maksudnya adalah barangsiapa yang bersungguh-sungguh menjaga dan menegakkan shalat Shubuh dan Ashar, maka ini merupakan salah satu sebab seseorang masuk al-Jannah.

💺Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan,

📝 Barangsiapa yang menegakkan shalat Shubuh dan Ashar sesuai dengan ketentuannya, yaitu dengan mengerjakannya pada waktunya.

📝 Apabila seseorang termasuk yang dikenai kewajiban shalat berjamaah, seperti laki-laki, maka harus dilakukan dengan berjamaah. Hal ini karena shalat berjamaah itu wajib, tidak halal bagi seorang laki-laki pun untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid padahal dia mampu melakukannya.

📗Sumber :
Syarh Riyadhush Shalihin, (1/151)
〰〰➖➖📃➖
🌷📝 Kajian Islam Al-Husna
Mengajak Anda berbagi untuk sesama dengan menebarkan ilmu agama
📲 Mari bergabung di channel kami http://telegram.me/KajianIslamAlHusna
🌏 Situs Resmi http://www.salafykediri.com

JANJI SURGA BAGI YANG SERIUS MENJAGA SHALAT SHUBUH DAN ASHAR

DUA KALIMAT YANG RINGAN DIUCAPKAN, NAMUN BOBOTNYA BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

🍀🌸🌷💐
DUA KALIMAT YANG RINGAN DIUCAPKAN, NAMUN BOBOTNYA BERAT DI TIMBANGAN AMALAN
➖➖➖➖➖➖
📕 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan di lisan, namun berat di mizan (timbangan amalan), serta dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ

(HR. al-Bukhari no. 6406, dan Muslim no. 2694)

💺Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

💬 “Sudah semestinya bagi seseorang untuk memperbanyak mengucapkan dua kalimat ini.”

📚 Sumber :
Syarh Riyadhush Shalihin, (1/1616)
〰〰➖📃➖〰
🌷📝 Kajian Islam Al-Husna
Mengajak Anda berbagi untuk sesama dengan menebarkan ilmu agama
📲 Mari bergabung di channel kami http://telegram.me/KajianIslamAlHusna
🌏 Situs Resmi http://www.salafykediri.com

DUA KALIMAT YANG RINGAN DIUCAPKAN, NAMUN BOBOTNYA BERAT DI TIMBANGAN AMALAN

TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI

TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI
-=-=-=-=-=-=-=
Ditulis oleh : al Ustadz Kharisman hafizhahullah
=-==-=-=-
Apakah Hukum Tasmiyah (Mengucapkan Bismillah) pada saat Berwudhu’?
=-=-=-==
Jawab :
Sunnah muakkadah. Tidak sampai pada taraf wajib, karena dalam surat alMaidah ayat 6 Allah tidak menyebutkan kewajiban tasmiyah. Demikian juga, ketika Nabi ditanya oleh seorang Arab Badui tentang wudhu’, beliau mengajarkannya dan tidak menyebutkan tasmiyah di awal.

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الطُّهُورُ فَدَعَا بِمَاءٍ فِي إِنَاءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّاحَتَيْنِ فِي أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ وَبِالسَّبَّاحَتَيْنِ بَاطِنَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ

Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata Wahai Rasulullah, bagaimana cara bersuci (wudhu’)? Kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam meminta bejana berisi air wudhu’ kemudian mencuci kedua telapak tangannya 3 kali, kemudian mencuci wajahnya 3 kali, kemudian mencuci kedua tangan hingga siku 3 kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian memasukkan dua jari telunjuk pada kedua telinga dan mengusap bagian luar atas telinga dengan ibu jarinya dan bagian dalam telinga dengan jari telunjuknya, kemudian mencuci kedua kaki tiga kali tiga kali. Selanjutnya beliau bersabda: Demikianlah wudhu’, barangsiapa yang menambahnya maka ia telah salah dan dzhalim (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin)
-=-=-=-=
Hadits-hadits tentang mengucap bismillah dalam wudhu’ meski masing-masing jalur ada unsur kelemahan, namun bisa saling menguatkan satu sama lain karena banyaknya jalur periwayatan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Mundziri (atTarghiib wat Tarhiib (1/100)

Seseorang yang berwudhu’ namun di Dalam Kamar Mandi, Apakah Tetap Mengucapkan Tasmiyah (Bismillah)?
=-=-=-=-=
Jawab : Hendaknya mengucapkan bismillah dalam hati tidak diucapkan dengan lisan (Fatwa Syaikh al-Utsaimin)

Apakah Rukun-rukun Wudhu’ ?
=-=-=-=-
Jawab : Rukun – rukun wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang jika ditinggalkan dengan sengaja atau lupa, maka wudhu’nya batal. Rukun dalam wudhu’ bisa juga disebut kewajiban dalam wudhu’. Rukun wudhu’ ada 6 :

1. Mencuci wajah, termasuk berkumur (al-madhmadhah) dan memasukkan air ke dalam hidung (al-istinsyaq) serta mengeluarkannya.

…فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ…

“…cucilah wajah kalian…(Q.S al-Maidah: 6)

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ

“Jika kalian berwudhu’, maka berkumurlah (H.R Abu Dawud)

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ لِيَنْتَثِرْ

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu’, maka hiruplah air ke dalam dua rongga hidung, kemudian keluarkanlah (H.R Muslim)
=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
2. Mencuci kedua tangan termasuk siku.

…وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ…

“…dan (cucilah) kedua tangan kalian termasuk siku…”(Q.S al-Maidah:6)
3. Mengusap kepala dan telinga.

…وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ…

…”dan usaplah kepala kalian…(Q.S al-Maidah:6)

الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

“Kedua telinga adalah termasuk kepala” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Ibnu Daqiiqil ‘Ied)
-=–=-=-=-=-=-=-=
4. Mencuci kedua telapak kaki termasuk mata kaki.

…وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ…

…”dan cucilah kedua kaki kalian termasuk mata kaki…(Q.S al-Maidah:6)
=-=-=-=-=-=-=
5. Berurutan, sebagaimana urutan penyebutan dalam al-Qur’an.

إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Sesungguhnya tidaklah sempurna sholat salah seorang dari kalian sampai ia menyempurnakan wudhu’nya sebagaimana Allah perintahkan ia cuci wajah dan kedua tangannya sampai siku dan mengusap kedua kaki dan (mencuci) kedua kaki sampai siku (H.R Abu Dawud, anNasaai, Ibnu Majah)
=-=-=-=-=-=-=-==-
6. Al-Muwaalah, yaitu tidak ada jeda yang lama antara satu rukun ke rukun berikutnya.

عَنْ خَالِدٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّ وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ

Dari Khalid dari sebagian Sahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seseorang sholat sedangkan pada punggung telapak kakinya terdapat (sedikit) kilauan putih seukuran dirham yang TIDAK TERKENA AIR. Maka kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk mengulangi wudhu’ dan sholat (H.R Ahmad dan Abu Dawud)
-=-=-=-=-=-=-=-
Apakah Sunnah-Sunnah dalam Wudhu’ ?
=-=-=-=-=
Jawab : Sunnah-sunnah dalam wudhu’ adalah perbuatan dalam wudhu’ yang akan semakin menyempurnakan wudhu’, menyebabkan pahala bertambah, namun tidak sampai taraf wajib. Kalaupun ditinggalkan, tidak menyebabkan wudhu’nya batal. Sunnah –sunnah wudhu’ adalah :
1. Mengucapkan Bismillah di permulaan wudhu’
=-=-=-=-==
2. Bersiwak (sikat gigi) sebelum atau setelah wudhu’

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan dengan wudhu’ (H.R Malik, Ahmad, anNasaai).
=-=-=-=-=-=-=
3. Mencuci kedua telapak tangan 3 kali di permulaan wudhu’
4. Bersungguh-sungguh ketika memasukkan air ke dalam hidung, kecuali pada saat berpuasa

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“dan bersungguh-sungguhlah ketika menghirup air ke hidung, kecuali jika engkau berpuasa”(H.R Abu Dawud, dishahihkan alHakim dan disepakati adz-Dzahaby)
=-=-=-=-=-=-=
5. Menyela-nyela jari ketika mencuci tangan dan kaki serta menyela-nyela jenggot

… وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ…

“dan sela-selailah antara jari jemari…(H.R Abu Dawud)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ

Dari Utsman bin Affan –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyela-nyela jenggotnya (ketika berwudhu’)(H.R atTirmidzi)
=-=-=-=-=-=
6. Mencuci anggota tubuh yang harus dicuci (wajah, tangan, dan kaki) 3 kali.
Pada dasarnya, semua rukun-rukun wudhu’ wajib dilaksanakan minimal sekali. Jika dilakukan 3 kali seperti pada hadits-hadits yang telah disebutkan, akan semakin menyempurnakan wudhu’, bertambah pahalanya.
=-=-=-=-=
7. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ اَلتَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ, وَتَرَجُّلِهِ, وَطُهُورِهُ, وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

Dari Aisyah –radliyallaahu ‘anha- beliau berkata : Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci, dan pada setiap urusan (yang baik)(Muttafaqun ‘alaih)
8. Hemat dalam penggunaan air

عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ, وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ dengan 1 mud dan mandi dengan 1 sha’ sampai 5 mud (Muttafaqun ‘alaih)
=-=-=-=-=-=-=-=
Ukuran 1 mud adalah sekitar 0,5 sampai 0,75 liter. Sedangkan 1 sha’ adalah 4 mud.
=-=-=-=-=
9. Berdoa setelahnya.

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Dari Umar –radliyallaahu ‘anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian berdoa : “Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wa anna muhammadan abdullahi wa rosuuluh “ kecuali akan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, dan ia bisa masuk melalui pintu mana saja yang dikehendakinya (H.R Muslim)
-=-=-=-=-=-=
Bagaimanakah cara berkumur dan istinsyaq yang benar?
Jawab : Cara yang benar adalah berkumur dan istinsyaq dilakukan bersamaan pada tiap cidukan air. Air diciduk dengan telapak tangan kanan, kemudian air dihirup ke mulut disertai berkumur) dan dihirup ke hidung bersamaan, kemudian dikeluarkan juga bersamaan. Sebagaimana hadits Abdullah bin Zaid yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Sedangkan, cara berwudhu’ yang memisahkan antara berkumur dan menghirup air secara tersendiri HADITS-HADITSNYA LEMAH (DHAIF ), demikian kata al-Imam an-Nawawy rahimahullah (syarh Shahih Muslim (3/106)).

ثُمَّ أَدْخَلَ – صلى الله عليه وسلم – يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا

Kemudian beliau shollallaahu ‘alaihi wasallam memasukkan tangannya ke dalam bejana (dan mengeluarkannya), kemudian berkumur dan memasukkan air ke hidung dari 1 cidukan tangan. Beliau melakukannya 3 kali (Muttafaqun alaih)
=-=-=-=-=-=-=
Sumber : http://salafy.or.id/blog/2012/09/27/tanya-jawab-seputar-wudhu-1/
Yahdikumullah

TATA CARA WUDHU SESUAI TUNTUNAN (SUNNAH ) NABI